Ekonomi Menumpuk di Bali Selatan, BI Dorong Pemerataan Investasi

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 08:14 WIB
ilustrasi investasi
ilustrasi investasi

 

RadarBuleleng.id – Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2026 mencatatkan kinerja positif sebesar 5,78 persen secara tahunan. 

Kendati melampaui rata-rata nasional dengan tingkat inflasi terkendali di angka 3,45 persen, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bali menyuarakan keprihatinan terkait persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa struktur perekonomian Pulau Dewata masih dibayangi dua tantangan fundamental. 

Tantangan itu yakni dominasi berlebih pada sektor pariwisata serta pemusatan investasi yang menumpuk di kawasan Bali Selatan (Sarbagita).

"Pertumbuhan ekonomi Bali diproyeksikan tetap kuat di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen. Namun, tantangan utama kita adalah ketergantungan sektoral pada pariwisata dan belum meratanya investasi di luar Bali Selatan," ujar Achris Sarwani, Jumat (11/9/2026).

Senada dengan BI, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti penopang pertumbuhan triwulan II yang masih didominasi konsumsi pemerintah dan proyek konstruksi, sementara sektor transportasi sempat terkontraksi.

Untuk memecah pemicu ketimpangan tersebut, Josua mendesak penyiapan sedikitnya 10 proyek investasi strategis di wilayah luar Bali Selatan. 

Langkah tersebut harus diimbangi percepatan belanja APBD, perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor pertanian/primer minimal 30 persen, serta penanganan kebocoran nilai tambah.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Ahli Pembangunan Pemprov Bali, Prof. I Made Damriyasa, menegaskan komitmen pemerintah untuk menginterkoneksikan enam sektor unggulan, mulai dari pertanian, kelautan, industri manufaktur, UMKM, ekonomi kreatif-digital, hingga pariwisata.

Ketua BPD PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengingatkan agar orientasi pembangunan Bali segera dibenahi.

"Filosofinya harus dipertegas. Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata. Industri hotel dan restoran wajib menyerap produk lokal serta memperhatikan daya dukung lingkungan agar pertumbuhan tidak sekadar diukur dari angka kunjungan turis," tegas pria yang akrab disapa Cok Ace itu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Berita Bali Hari Ini Ekonomi Bali BI Bali pariwisata bali cok ace