Ekonomi Buleleng Kuat di Sektor Pertanian dan  Industri, Tapi Pangsa Pasarnya Menciut

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 09:50 WIB
MENUJU SAWAH ORGANIK: Aktivitas petani menanam padi di Subak Keladian, Desa Gitgit. Lahan persawahan di Kabupaten Buleleng itu diorbitkan menjadi lahan pertanian organik.
MENUJU SAWAH ORGANIK: Aktivitas petani menanam padi di Subak Keladian, Desa Gitgit. Lahan persawahan di Kabupaten Buleleng itu diorbitkan menjadi lahan pertanian organik.

 

RadarBuleleng.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali merilis data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota tahun 2021–2025. 

Hasilnya, Kabupaten Buleleng berhasil mempertahankan posisinya sebagai daerah dengan skala ekonomi terbesar ketiga di Pulau Dewata, di bawah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

Pada tahun 2025, PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Buleleng menembus angka Rp 45,12 triliun, atau menyumbang 13,88 persen terhadap total perekonomian Bali.

Meski mencatatkan nilai nominal yang cukup fantastis, kontribusi Buleleng terhadap kue ekonomi Bali rupanya menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. 

Pada tahun 2021 lalu, Buleleng sempat menyumbang hingga 15,09 persen bagi PDRB provinsi.

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan mengungkapkan, ketimpangan distribusi ekonomi di Bali masih didominasi oleh kawasan Bali Selatan. 

Badung berada di urutan teratas dengan PDRB Rp 81,67 triliun (kontribusi 25,11 persen), disusul Denpasar sebesar Rp 71,10 triliun (21,87 persen).

”Data yang disajikan dalam publikasi ini mencakup nilai nominal PDRB, persentase distribusi, laju pertumbuhan, serta PDRB per kapita di Provinsi Bali untuk melihat dinamika ekonomi daerah,” ujar Agus Gede Hendrayana, Minggu (27/9/2026).

Dari sisi laju pertumbuhan ekonomi, Buleleng mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,54 persen pada tahun 2025. 

Angka ini masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan Provinsi Bali yang mencapai 5,82 persen, serta kalah kencang dibandingkan Badung (6,27 persen) dan Denpasar (6,11 persen).

Sebab itu, dari indikator kemakmuran wilayah, PDRB per kapita penduduk Buleleng tercatat sebesar Rp 54,99 juta per tahun. 

Capaian ini menempatkan Buleleng pada posisi ketujuh di Bali dan masih terpaut jauh dari rata-rata PDRB per kapita provinsi yang berada di angka Rp 72,66 juta.

Atas capaian indikator pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita tersebut, BPS mengelompokkan Kabupaten Buleleng ke dalam Kuadran III, yakni kelompok daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita yang masih berada di bawah rata-rata provinsi bersama Kabupaten Jembrana, Tabanan, Klungkung, Bangli, dan Karangasem.

Meskipun laju pertumbuhannya belum melampaui Bali Selatan, Buleleng memiliki struktur ekonomi yang solid pada sektor riil. 

Analisis sektor basis BPS mencatat bahwa Buleleng memiliki dua lapangan usaha utama yang menjadi tulang punggung perekonomian, yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta sektor industri pengolahan.

Keberadaan sektor basis ini menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Buleleng tidak terlalu bergantung pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum (pariwisata) seperti halnya Badung dan Denpasar.

BPS berharap pemetaan struktur PDRB ini dapat menjadi pijakan bagi Pemkab Buleleng dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang presisi—terutama dalam mengoptimalkan potensi pertanian dan industri pengolahan guna mendongkrak pendapatan masyarakat Buleleng. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Ekonomi Buleleng Berita Buleleng Hari Ini PDRB Buleleng pemkab buleleng bps bali