RadarBuleleng.id - Krisis kepercayaan tengah melanda brand kuliner Bake n Grind setelah serangkaian tudingan terhadap pemiliknya, Felicia Novenna, mencuat di media sosial.
Kasus ini berawal dari dugaan pelanggaran klaim produk yang disebut “bebas gluten, bebas susu hewani, bebas telur, dan vegan”, namun justru menimbulkan reaksi alergi parah pada seorang balita yang mengonsumsi produknya.
Peristiwa tersebut memicu gelombang kemarahan publik di dunia maya.
Netizen mempertanyakan keaslian label “gluten-free” yang menjadi ciri utama Bake n Grind.
Setelah kasus itu ramai dibahas, perhatian publik kemudian beralih pada keluarga Felicia, terutama ibunya, yang diduga mengetahui bahkan terlibat dalam praktik bisnis bermasalah tersebut.
Dalam utas viral di media sosial Threads, sejumlah pengguna mengklaim bahwa produk Bake n Grind yang dijual dengan label “premium dan sehat” ternyata hanyalah produk repacking dari merek lain yang lebih murah.
Tuduhan ini semakin memperkuat dugaan bahwa bisnis tersebut tidak transparan terhadap konsumen.
“Kalau benar produk repacking dijual ke pasien kanker, ini bukan sekadar kesalahan bisnis, tapi menyangkut empati dan tanggung jawab moral,” tulis salah satu pengguna Threads yang mengkritik Bake n Grind.
Felicia Novenna sendiri sebelumnya telah meminta maaf secara terbuka kepada keluarga korban dan berjanji bertanggung jawab atas insiden yang menimpa anak tersebut.
Ia juga menyatakan akan mengembalikan deposit para member Bake n Grind serta merilis video permintaan maaf paling lambat pada 16 Oktober 2025.
Namun, hingga artikel terkait diterbitkan, janji tersebut belum terealisasi.
Di sisi lain, akun media sosial milik Felicia maupun Bake n Grind kini tidak lagi aktif.
Banyak netizen menduga tindakan itu dilakukan untuk menghindari sorotan publik yang semakin tajam.
Nama keluarga Felicia pun kian menjadi perbincangan setelah muncul tudingan baru bahwa ibunya diduga ikut terlibat dalam penjualan produk tidak sesuai klaim kepada pasien kanker.
“Kasus ini mencoreng kepercayaan publik terhadap produk yang mengusung citra ‘sehat dan aman’. Masyarakat perlu lebih kritis sebelum mempercayai label yang belum teruji secara resmi,” ujar salah satu komentar yang ramai dibagikan pengguna X.
Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi pelaku usaha kuliner yang mengandalkan kepercayaan konsumen sebagai fondasi utama bisnis.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, setiap klaim produk harus didukung uji validitas dan transparansi penuh. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya