Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sadis! Keluarga Sebut Komang Basir Diculik dan Disiksa Seperti Anjing. Desak TNI Usut Tuntas Pembunuhan

Eka Prasetya • Sabtu, 10 Mei 2025 | 01:06 WIB

 

TUNTUT KEADILAN: Komang Juliartawan alias Komang Basir, semasa hidup. Dia tewas karena disiksa oknum prajurit TNI.
TUNTUT KEADILAN: Komang Juliartawan alias Komang Basir, semasa hidup. Dia tewas karena disiksa oknum prajurit TNI.

BUSUNGBIU, RadarBuleleng.id - Kasus pembunuhan yang melibatkan tiga orang oknum TNI di Bali, masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Hingga kini pihak keluarga belum bisa menerima peristiwa tersebut.

Keluarga benar-benar terpukul. Mereka menganggap peristiwa yang dialami oleh mendiang Komang Juliartawan alias Basir, warga Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, merupakan peristiwa yang benar-benar keji.

Radar Buleleng sempat mendatangi rumah duka di Desa Sepang, pada Jumat (9/5/2025) pagi. Suasana duka masih tampak menggelayut di sana.

Keluarga tampak sibuk menyiapkan prosesi upacara adat. Meski mendiang sudah dikuburkan pada Selasa (6/5/2025) lalu, namun masih ada rangkaian lagi. Pihak keluarga besar masih melakukan upacara nyolasin yang berlangsung hingga Selasa (13/5/2025) nanti.

Para ibu tampak sibuk menganyam busung. Mereka menyiapkan sarana upakara yang digunakan untuk rangkaian upacara adat.

Keluarga mengungkapkan, mendiang Komang Basir dikenal sebagai sosok yang ceria. Dia merupakan sosok supel yang punya hobi karaoke. Sehari-hari dia mencari penghasilan dengan cara menjadi buruh arit, buruh petik cengkeh, atau hal-hal lain di bidang pertanian.

Menurut keluarga, mendiang terakhir kali terlihat di rumah pada saat umanis galungan pada Kamis (24/4/2025). “Setelah itu sudah putus kontak. Kami kira dia lancong ke rumah teman, atau kemana. Waktu Kuningan juga tidak pulang. Memang agak jarang tidur di rumah,” ungkap Nengah Murid, orang tua almarhum.

Hampir seminggu tidak ada kabar, tiba-tiba pihak keluarga dikagetkan dengan kabar bahwa Basir meminjam sepeda motor warga dan menggadaikannya di Kecamatan Pupuan. Adapun sepeda motor yang digadaikan adalah milik orang tua Prada PAH, salah seorang prajurit TNI AD yang bertugas di Batalyon Infanteri Raider 900/Satya Bhakti Wirottama.

Terkejut dengan hal itu, Nengah Murid bersama putrinya, Ketut Juniari, mendatangi rumah orang tua Prada PAH. Mereka datang pada Sabtu (3/5/2025). Di sana mereka meminta maaf atas kelakuan Basir. Mereka juga menyanggupi akan menebus atau membayar ganti rugi. Ketika itu, orang tua Prada PAH disebut memberikan waktu seminggu.

“Waktu itu sepeda motor belum ditemukan. Kakak saya juga belum jelas kabarnya. Kami dikasih deadline seminggu,” ungkap Ketut Juniari.

Keesokan harinya, yakni pada Minggu (4/5/2025) sekitar pukul 19.22, Prada PAH menghubungi Juniari. Prada PAH menyebut bahwa sepeda motor sudah ditemukan di daerah Pupuan. Ketika itu Prada PAH meminta transferan uang Rp 2,2 juta untuk menebus sepeda motor itu. Selang 15 menit kemudian, Juniari pun mengirimkan uang yang diminta ke rekening BCA milik Prada PAH.

Usai menerima transferan, Prada PAH juga mengirimkan foto sepeda motor dengan nomor polisi DK 6426 AAB. Sekaligus memastikan bahwa sepeda motor itu telah ditebus.

Selanjutya pada Senin (5/5/2025) pukul 03.46, Prada PAH sempat menelpon Juniari. Prada PAH memberi kabar bahwa ia telah menemukan Komang Basir. Saat itu, Juniari tidak mengangkat telepon karena sedang tidur. Dia baru menyadari bahwa ada telepon dari pradah PAH sekitar pukul 05.54.

Pada Senin pagi, Juniari bergegas menghubungi Prada PAH. Namun saat itu yang menjawab telepon adalah Sertu KSY. “Waktu itu dibilang kakak saya masih tidur di kosan di daerah Singaraja. Dari sana (Sertu KSY) juga sempat tanya, kakak saya ini mau diantar pulang atau dijemput. Saya bilang mau hubungi keluarga di kampung dulu. Karena posisi saya waktu itu ada di Denpasar,” ungkapnya.

Juniari lantas berinisiatif menghubungi kakaknya, Gede Kamar Yasa yang ada di Desa Sepang. Gede Kamar pun bergegas berangkat ke Singaraja sekitar pukul 08.00 pagi untuk menjemput korban.

Sekitar jam 09.00, Gede Kamar menerima telepon dari ibu Prada PAH. Saat itu sang ibu meminta agar Gede Kamar segera datang ke RSUD Buleleng.

“Sekitar jam 10-an saya sampai di rumah sakit, ternyata adik saya sudah meninggal, sudah di ruang jenazah. Waktu itu sempat ketemu orang tua Prada PAH di parkiran. Pas sampai di ruang jenazah, dari dokter tidak mengizinkan saya melihat kondisi jenazah,” kata Gede Kamar.

Belakangan keluarga baru mengetahui jika mendiang Komang Basir menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh Prada PAH bersama rekannya Sertu KSY dan Prada MR. Mereka pun melaporkan peristiwa tersebut ke Sub Detasemen Polisi Militer IX/3-1 Singaraja.

Keluarga dibuat terpukul ketika melihat kondisi tubuh korban. Keluarga mengklaim korban mengalami luka di sekujur tubuh, patah tulang pada tangan kanan, patah tulang rusuk, hingga patah tulang leher.

Pihak keluarga tidak habis pikir jika mendiang Komang Basir dieksekusi hanya karena menggadaikan sepeda motor tersebut. Keluarga menilai masalah tersebut sudah tuntas, karena sudah menebus kendaraan itu. Ditambah lagi, sepeda motor sudah diterima oleh keluarga Prada PAH.

“Padahal masalah (gadai) sudah selesai. Tapi Basir dijemput tanpa mengabari keluarga kami di sini. Kami anggap ini penculikan. Apalagi disiksa seperti itu, seperti menyiksa anjing. Lebih baik dia ditembak ketimbang disiksa seperti itu,” kata Ketut Jimat, salah seorang keluarga korban.

Ia mengakui jika Basir bersalah, karena menggadaikan sepeda motor orang lain tanpa izin. Tapi ia menganggap perbuatan yang dilakukan korban tidak sebanding dengan dampak yang dialami, hingga menyebabkan korban Komang Basir kehilangan nyawa. 

“Kalau memang dipukuli, lalu dibawa ke polisi, kami mungkin tutup mata. Kami anggap itu pelajaran untuk Basir. Tapi masalahnya ini dieksekusi sampai kondisinya begitu,” ujarnya.

Jimat berharap polisi militer bisa mengungkap tuntas masalah tersebut hingga ke akarnya. Keluarga juga mendesak agar polisi militer memeriksa HP para pelaku untuk menelusuri jejak komunikasi mereka.

“Kalau memang ada rekannya sesama TNI yang terlibat, tolong diproses. Kalau ada masyarakat biasa yang ikut, agar diserahkan ke Polri. Kami harap hukum ditegakkan seadil-adilnya, supaya keluarga kami merasa sedikit lega. Jangan hanya dihukum ringan,” harapnya.

Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Inf Candra menyatakan, polisi militer masih melakukan penyidikan intensif. Para prajurit TNI yang terlibat akan ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Candra menegaskan, Kodam IX/Udayana menjunjung tinggi supremasi hukum dan tidak akan mentolerir segala bentuk pelanggaran, terlebih yang mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi TNI. Siapa pun yang terbukti bersalah akan diproses secara hukum dengan tegas dan transparan.

"Kami mengimbau semua pihak untuk memberikan kepercayaan penuh kepada aparat penegak hukum dalam menjalankan proses penyidikan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Candra.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang warga Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Komang Juliartawan alias Basir tewas setelah dikeroyok tiga orang oknum anggota TNI. Mereka adalah Prada PAH, Sertu KSY, dan Prada MR. Ketiganya merupakan prajurit di Batalyon Infanteri Raider 900/SBW.

Permasalahan berawal saat korban Komang Juliartawan alias basir meminjam sepeda motor Honda Scoopy dengan nomor polisi DK 6426 AAB milik orang tua tersangka Prada PAH.

Bukannya dikembalikan, sepeda motor itu ternyata digadaikan di wilayah Tabanan. Hal itu membuat tersangka Prada PAH naik pitam. Apalagi uang hasil gadai digunakan untuk bermain judi tajen atau sabung ayam.

Prada PAH sempat mencari sepeda motor orang tuanya hingga ditemukan di Tabanan. Dia juga sempat meminta keluarga korban mengirimkan uang Rp 2,2 juta untuk menebus sepeda motor.

Dalam kondisi emosi, Prada PAH mengajak dua orang rekannya, yakni Sertu KSY dan Prada MR mencari korban di wilayah Denpasar. Mereka akhirnya menemukan korban di kawasan Jalan Drupadi, Denpasar pada Senin (5/5/2025) dini hari.

Selanjutnya korban dibawa menggunakan mobil Nissan dengan nomor polisi H 8785 JQ. Mereka membawa korban ke GOR Ngurah Rai Denpasar.

Di sana korban diinterogasi dan dipukuli hingga tak sadarkan diri. Selanjutnya para pelaku membawa korban ke Buleleng. Para pelaku diduga sempat menganiaya korban sepanjang jalan.

Pada Senin (5/5/2025) pagi, keluarga mendapat kabar agar menjemput korban di RSUD Buleleng. Ternyata, keluarga mendapat korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#korban #bali #rsud #busungbiu #sepeda motor #ruang jenazah #keluarga #galungan #sepang #oknum #polisi militer #tni #pembunuhan #buleleng #Adat #Singaraja #duka