Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Enam Warga Desa Patas Terserang DB, Minta Fogging ke Puskesmas, Tapi Alat Rusak

Francelino Junior • Senin, 5 Februari 2024 | 01:26 WIB

 

FOGGING: Adanya korban DBD di wilayah Desa Patas ditindaklanjuti dengan fogging yang dilakukan Tim Relawan BMI Buleleng atas permintaan dari pemerintah desa.
FOGGING: Adanya korban DBD di wilayah Desa Patas ditindaklanjuti dengan fogging yang dilakukan Tim Relawan BMI Buleleng atas permintaan dari pemerintah desa.

GEROKGAK, RadarBuleleng.id – Penyakit demam berdarah masih menjadi momok di Kabupaten Buleleng. Pada awal tahun saja, demam berdarah sudah muncul.

Seperti yang terjadi di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak. Sebanyak enam orang warga di desa setempat menjadi korban penyakit demam berdarah.

Penyakit itu bukan hanya menjangkiti orang tua. Tapi juga anak-anak. Dampaknya mereka harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Perbekel Patas, Made Suparsa mengaku kasus demam berdarah di wilayahnya cukup mengkhawatirkan. Sebab ada enam orang yang dirawat dalam waktu berdekatan. Mereka kini mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di Kecamatan Seririt.

“Yang sudah terkena DB ada enam orang. Tetapi yang menunjukkan gejala seperti panas-panas itu banyak, takutnya mengarah ke DB,” kata Suparsa, saat ditemui Minggu (4/2/2024) pagi.

Menurutnya setelah mendapat laporan ada warga yang menderita DBD, ia langsung berkoordinasi dengan bidan desa.

Pihak desa juga berkoordinasi kepada Puskesmas Gerokgak I. harapannya tenaga medis melakukan fogging.

Sayangnya permintaan warga tidak bisa dipenuhi. Karena alat fogging di puskesmas ternyata dalam keadaan rusak.

Ia akhirnya memilih meminta bantuan pada tim relawan Banteng Muda Indonesia (BMI) Buleleng untuk melakukan fogging di wilayahnya.

Suparsa menuturkan, fogging dilakukan untuk meyakinkan masyarakat bila nyamuk-nyamuk DBD bisa dikendalikan dan tidak kembali memakan korban.

“Warga ingin ada fogging. Kami lakukan supaya warga bisa lebih tenang. Kami juga sudah ingatkan agar warga melakukan gerakan membasmi jentik nyamuk,” katanya.

Gerakan membasmi jentik nyamuk itu dilakukan lewat gerakan 3M plus. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, serta melakukan daur ulang terhadap barang bekas.

Warga juga dianjurkan menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk. Termasuk memelihara ikan yang memakan jentik nyamuk.

Sementara itu, Ketua BMI Buleleng, Ketut Putra Sedana menuturkan, DBD selalu menjadi momok di masyarakat. Meskipun penyakit ini tergolong penyakit musiman.

Wilayah warga yang menjadi korban DBD di Desa Patas yang berada di wilayah perbukitan dan cenderung lembab, serta adanya tempat penampungan air milik warga.

Hal membuatnya mengajak masyarakat mengedepankan pola 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur. Tentu untuk mencegah berkembang dan kembalinya penyakit DBD.

“Kami turun berdasarkan permintaan melihat kasus DBD yang terjadi di Desa Patas. Kalau kita tidak memelihara lingkungan dengan baik, jelas dampaknya demam berdarah. Tetapi penyakit ini menjadi tanggung jawab bersama tak hanya pemerintah,” ujarnya.

Sekadar diketahui, pada awal tahun ini saja, di Kabupaten Buleleng sudah ada 82 kasus demam berdarah yang tersebar seantero kabupaten. (*)

 

Editor : Eka Prasetya
#gerokgak #demam berdarah #DB #patas #buleleng