SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Masyarakat di Bali diharapkan melestarikan gerakan Keluarga Berencana (KB) 4 orang anak alias KB 4 anak.
Gerakan tersebut merupakan antitesis dari gerakan KB 2 Anak yang digencarkan pemerintah sejak puluhan tahun silam.
Program KB Anak itu dituangkan dalam Instruksi Gubernur Bali Nomor 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali punya sikap sendiri terkait dengan program KB 4 Anak tersebut.
Kepala Perwakilan BKKBN Bali, Sarles Brabar mengatakan, saat ini program BKKBN bukan lagi semata-mata soal alat kontrasepsi. Apalagi dengan mengendalikan jumlah penduduk.
Menurutnya saat ini orientasi BKKBN adalah mengoptimalkan pelayanan dasar keluarga. Sehingga stunting, kemiskinan ekstrem, hingga akhirnya inflasi, dapat dikendalikan.
Soal program KB 4 Anak, Sarles mengatakan harus direncanakan dengan matang. Caranya dengan membatasi jarak kelahiran anak. Sehingga ibu tetap sehat.
Menurutnya jarak kehamilan dan kelahiran harus tetap dijaga. Tujuannya untuk menjaga kondisi kesehatan ibu.
“Yang diperlukan itu kan ibu itu harus sehat. Makanya harus ada jarak. Tidak ideal melahirkan setiap tahun. Paling tidak diberi jarak 2-3 tahun. Jaga jarak kelahiran supaya ibunya sehat, anaknya juga sehat,” kata Sarles saat ditemui di Gedung Wanita Laksmi Graha, Kamis (21/3/2024).
Menurut Sarles, dalam program KB 4 anak yang harus dibangun adalah kesadaran bersama. Terutama kesadaran ayah dan ibu.
Hal yang wajib diperhatikan adalah kondisi kesehatan ibu. Selain itu pasangan juga harus memperhatikan kondisi ekonomi keluarga.
“Kalau faktor kesehatan dan ekonomi tidak memungkinkan, punya 2 anak juga cukup. Bapak harus setuju, ibu harus setuju punya anak berapa. Jangan dengar kata orang. Harus pikir nanti anak setelah lahir mau dikasih makan apa,” demikian Sarles. (*)
Editor : Eka Prasetya