RadarBuleleng.id - Penyakit gangguan gerak kerap dianggap remeh. Penyakit itu dianggap sederhana, namun belakangan ini tren penderita gangguan gerak terus meningkat.
Penyakit gangguan gerak dapat mengganggu kualitas hidup karena gerakan tubuh yang kurang harmonis.
Penderitanya pun bukan hanya warga lanjut usia (lansia) yang telah berusia 60 tahun. Tapi ada juga yang berusia di bawah 60 tahun.
Di RS Prof. Ngoerah Sanglah misalnya, dalam sehari ada 15-20 orang pasien dengan penyakit gangguan gerak yang menjalani pengobatan. Mereka mengalami gangguan pada saraf.
”Awal ada poli khusus gangguan gerak itu sebenarnya untuk edukasi. Biar masyarakat lebih peduli, kalau ada tremor segera berobat ke neurologi,” kata Dokter Spesialis Saraf pada RS Prof. Ngoerah, dr. Sri Yenni Trisnawati.
Yenni menyebut belakangan jumlah penderita gangguan gerak semakin banyak. Salah satunya yang mengalami kaku wajah dan kelopak mata.
Dalam kondisi tersebut, penderita kaku wajah dan kelopak mata harus menjalani injeksi botulinum toksin. Saat ini di Bali, layanan itu hanya tersedia di RS Prof. Ngoerah.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kedokteran Spesialis Saraf, Prof. dr. Purwa Samatra mengungkapkan, gangguan gerak memang tidak menyebabkan kematian.
Namun gangguan gerak dapat menurunkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Padahal gangguan gerak bisa disembuhkan, bahkan pengobatannya juga ditanggung BPJS Kesehatan.
“Gangguan gerak itu gerakan yang tidak normal dan disadari oleh pasien, tapi tidak bisa dihilangkan olehnya. Berbeda dengan kejang, yang mana mereka tidak sadar dan tidak ingat,” jelasnya.
Untuk itu, ia mengajak agar masyarakat tidak menganggap sepele masalah gangguan gerak. Mengingat gejala awal gangguan gerak sudah terlihat pada fase awal usia 50-an, bahkan dalam beberapa kasus terlihat pada usia 40-an. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya