RadarBuleleng.id - Pulau Bali kembali menjadi sorotan terkait tingginya angka kasus ulah pati (bundir) secara nasional sepanjang 2024.
Belakangan ini, serangkaian kasus serupa terus bermunculan, memperkuat kekhawatiran soal kesehatan mental di Bali.
Salah satu peristiwa yang masih membekas di ingatan publik adalah aksi ulah pati di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung.
Pada 18 Maret 2025, seorang oknum anggota Polda Bali nekat mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan setinggi 71 meter tersebut.
Tak lama berselang, pada 3 April 2025, seorang wanita muda melakukan aksi serupa di lokasi yang sama.
Selain itu, sejumlah kasus ulah pati lainnya juga tercatat terjadi di berbagai wilayah Bali sepanjang tahun ini.
Psikolog klinis di RSUD Wangaya dan Bali Psikologi, Nena Mawar Sari mengungkapkan, faktor utama dibalik tindakan ulah pati umumnya adalah depresi.
Kondisi tersebut ditandai dengan perasaan tidak berharga, putus asa, merasa tak ada jalan keluar atas masalah yang dihadapi, hingga muncul keyakinan bahwa hidup sudah tidak berarti lagi.
"Di sisi lain, gangguan mental klinis juga memperkuat dorongan untuk melakukan ulah pati," ujar Nena.
Ia menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19, kesadaran masyarakat Bali terhadap pentingnya kesehatan mental masih sangat rendah. Baru setelah pandemi, mulai banyak masyarakat yang mencari bantuan profesional.
"Pengalaman saya, setelah Covid-19 barulah banyak pasien di Bali yang mulai datang konsultasi. Mereka mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan mental," katanya.
Menurut Nena, budaya Bali yang kuat juga ikut berperan. Norma menjaga nama baik keluarga seringkali membuat individu enggan mencari bantuan ke psikolog.
"Ada kekhawatiran akan dicap memiliki gangguan jiwa jika pergi ke psikolog. Akhirnya, masalah mental dipendam sendiri, memperburuk kondisi mereka," bebernya.
Selain itu, budaya 'deep talk' atau obrolan mendalam tentang kondisi emosional pribadi masih minim dalam keluarga-keluarga Bali.
"Biasanya yang ditanyakan itu seputar kapan menikah, kapan punya anak laki-laki, bukan tentang bagaimana perasaan atau kondisi psikologis seseorang," tambahnya.
Nena juga menyoroti minimnya edukasi mengenai tanda-tanda depresi. Gejala seperti menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan fokus, produktivitas menurun, hingga perubahan suasana hati seringkali tidak dikenali sebagai masalah serius, terutama di pedesaan.
"Petugas kesehatan mental juga perlu lebih aktif memberikan edukasi di daerah-daerah terpencil," ujarnya.
Mengenai anggapan bahwa tekanan pekerjaan memicu ulah pati, Nena menegaskan bahwa persoalan kerja biasanya hanya menjadi 'pencetus'.
"Masalah sebenarnya sudah ada sejak lama, seperti trauma masa lalu, tekanan batin, perasaan tidak dihargai. Ketika tekanan pekerjaan datang, itu hanya mempercepat keputusan nekat tersebut," tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya