Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Krisis Lingkungan ke Krisis Kesehatan: Refleksi Dampak Tambang di Raja Ampat

Admin • Kamis, 12 Juni 2025 | 18:08 WIB

 

Aktivitas salah satu tambang di Raja Ampat
Aktivitas salah satu tambang di Raja Ampat

Opini oleh: Prima Trisna Aji*

PUBLIK akhir-akhir ini dihebohkan dengan kondisi Raja Ampat yang viral, gara-gara kawasan yang tersohor karena pariwisata itu dikeruk menggunakan eskavator. Dampaknya, terlihat bukit yang setengahnya terbelah rata dengan tanah. Ada publik yang menganggap bahwa foto tersebut editan. Namun setelah ditelusuri, foto tersebut nyata adanya.  

Fenomena ini membuat keprihatinan yang sangat luar biasa bagi Indonesia. Negeri yang kaya akan ekosistem laut yang terkenal kaya akan ekosistem hayati, kini harus menjadi sasaran tembak eksploitasi tambang yang tidak bertanggung jawab. Foto viral yang menunjukkan aksi penambangan yang mengeruk bukit di Pulau Gag, memicu kemarahan publik. Kondisi itu juga membangun kesadaran bahwa alam akan rusak hanya demi untuk mengejar keuntungan dalam jangka pendek.

Kasus ini bukan hanya semata hanya akan merusak ekosistem alam. Tetapi akan merusakan tatanan Raja Ampat secara komprehensif. Salah satunya adalah dari segi kesehatan sebagai dampak dari aktivitas tambang. 

Alam yang rusak praktis akan berdampak pada kesehatan manusia di sekitarnya. Lingkungan alam yang tercemar karena aktivitas tambang - terlebih lagi tambang ilegal - akan merusak bumi. Selain itu akan mengancam kehidupan masyarakat.

Air Tercemar, Penyakit Mengintai

Dampak bahaya penambangan ilegal adalah pengelolaan lingkungan yang buruk. Tata kelola yang buruk akan berdampak pada sanitasi lingkungan. Hal itu akan berdampak bahaya bagi lingkungan sekitar. Hal yang kerap terjadi adalah pencemaran air karena aktivitas penambangan liar. 

Lumpur serta logam berat akan masuk ke sungai dan laut, hingga mencemari sumber air bersih. Padahal dalam lumpur terdapat zat-zat kimia yang berdampak buruk bagi tubuh. Apabila pencemaran sumber air ini terus dibiarkan maka akan menyebabkan peningkatan akan wabah penyakit.

Masalah kesehatan akan terus meningkat drastis pada area penambangan ilegal. Apabila terus dibiarkan, akan muncul penyakit kulit akibat paparan logam berat merkuri. Selain itu kasus diare dan infeksi kulit juga akan muncul. 

Fenomena itu juga muncul dalam sebuah penelitian berjudul “The Impact of Illegal Gold Mining on Human Health and the Environment in Mandor, West Kalimantan" yang ditulis oleh Agustina E dalam Journal of Environmental and Public Health. Penelitian itu menunjukkan bahwa kadar merkuri dalam air dan sedimen sungai yang terdampak cemaran tambang, jauh melebihi ambang batas WHO. 

Dampaknya, terjadinya kerusakan sistem saraf dan gangguan ginjal akibat paparan merkuri dalam jangka panjang. Warga yang tinggal di sekitar lokasi penambangan emas ilegal mengalami keluhan gangguan kulit (dermatitis), iritasi mata, dan pusing.

Penelitian kedua yang dilakukan Penelitian di Tambang Timah Bangka Belitung, Indonesia pada tahun 2023 oleh Safitri D., et al yang telah dipublikasi pada jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health, menunjukkan hasil temuan serupa. Yakni terjadi peningkatan risiko penyakit dermatitis kontak, batuk kronis, dan nyeri kepala pada penambang timah ilegal. Tingginya paparan terhadap timbal (Pb) dan arsenik (As) dalam darah dan urin penambang serta keluarga penambang, berdampak pada penurunan fungsi kognitif pada anak-anak di lingkungan tambang.

Dari kedua penelitian tersebut memiliki hasil penelitian yang sama bahwa aktivitas penambangan ilegal berdampak buruk bagi kesehatan di lingkungan sekitarnya. Hasil dari penelitian tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan baik dan tepat sehingga tidak akan ada lagi korban wilayah selanjutnya yang dijadikan pertambangan liar.

Ketahanan Pangan Terancam

Efek domino luar biasa selanjutnya karena penambangan yang membabi buta di wisata Raja Ampat adalah kerusakan pada ekosistem laut di Raja Ampat. Perlu diketahui bahwa selama ini penghidupan utama Masyarakat sekitar di Raja Ampat adalah pada laut.

Terumbu karang akan rusak karena sedimentasi dan pencemaran air laut. Aktivitas transportasi laut yang semakin intens akan berdampak pada kehidupan ikan dan biota laut di dalamnya. Tak hanya itu, tangkapan ikan laut pada nelayan wilayah Raja Ampat akan menurun drastis. Sehingga akan berdampak juga pada harga beli makanan yang akan melonjak mahal tak terkendali.

Efek pada jangka panjang tentunya akan sangat mengganggu ketahanan pangan terutama akses utama terhadap kebutuhan protein hewani dari laut. Tanpa disadari hal ini akan berdampak pada kesehatan anak-anak serta kelompok rentan. Mereka mengalami masalah gizi buruk, memperbesar resiko tinggi stunting, dan penurunan sistem kekebalan tubuh. Praktis mereka akan mudah terserang penyakit.

Masalah yang akan berdampak besar yang tidak terlihat adalah gangguan kesehatan mental pada masyarakat adat di wilayah Raja Ampat. Kita tahu bersama bahwa wilayah tersebut masih kental dengan ikatan spiritual serta budaya. Masyarakat menyandarkan hidup pada hutan dan laut. Ketika alam sekitar Raja Ampat dihancurkan maka tidak hanya akan kehilangan mata pencaharian tetapi juga rasa aman serta nyaman dari warisan leluhur.

Masalah kesehatan mental tidak bisa dianggap remeh. Hal ini seperti fenomena gunung es. Apabila dibiarkan masalah akan terus membesar. Pada saatnya, hal itu akan mengakibatkan stress berkepanjangan, kecemasan kronis, hingga trauma psikologis pada warga sekitarnya. Apabila masalah mental dibiarkan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang akan sulit untuk disembuhkan.

Kasus ini juga akan menjadi diskursus. Masyarakat adat yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan, idealnya memerlukan pengayoman. Namun mereka malah menjadi korban eksploitasi. Mereka juga harus menanggung beban jangka panjang akibat masalah kesehatan.

Alam Lestari, Rakyat Sehat

Perlu diketahui juga bahwa masalah kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir bahwa melindungi alam bukan hanya urusan aktivis lingkungan saja. Tapi tanggung jawab semua pihak. Pemerintah pusat juga harus bisa melindungi warganya dari sabang hingga Merauke. Pembangunan yang berwawasan lingkungan harus dikedepankan. Kelestarian alam, keselamatan dan kesehatan manusia harus menjadi prioritas utama.

Mulai detik ini pemerintah harus mulai bergerak serta meninjau ulang semua lini perizinan pertambangan di seluruh Indonesia. Pemerintah juga harus memastikan bahwa penegakan hukum dilakukan secara berkeadilan, tidak ada tebang pilih. Pemerintah wajib menjamin hak semua masyarakat, termasuk masyarakat adat. Tanpa tindakan tegas, maka aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan seperti yang terjadi di Raja Ampat akan terus terulang kembali. Pada akhirnya rakyat yang harus memikul derita.

Penambangan ilegal akan terus terjadi apabila hal ini tidak dibenahi oleh pemerintah secara konkrit dan sistematis. Perlu dilakukan pendekatan multi level dan lintas sektor sebagai solusi nyata dalam melindungi warga sekitar dan lingkungan.

Penegakan hukum dan transparansi perizinan yang ketat serta secara cermat khususnya di wilayah sensitif seperti Raja Ampat mutlak dilakukan. Audit perizinan yang sudah terbit. Hentikan aktivitas tambang ilegal. Pengusahanya pun harus ditindak dengan tegas tanpa pandang bulu.

Masyarakat lokal perlu diberdayakan dengan menerapkan skema “ekowisata berbasis komunitas lokal” dan “konservasi partisipatif lokal”. Dengan memberikan ruang pada masyarakat lokal, mereka bisa terlibat dalam menjaga lingkungan, serta mendapatkan penghidupan yang layak.

Kerja sama lintas sektor perlu dilakukan. Kementerian Kesehatan perlu dilibatkan untuk menganalisa indikator kesehatan lingkungan. Misalnya dengan melakukan pemantauan kualitas air, pelatihan kesehatan berbasis komunitas, serta akses layanan kesehatan pada wilayah yang terdampak tambang.

Untuk memulihkan kembali kawasan yang sudah terlanjur rusak akibat penambangan liar harus melibatkan banyak sektor termasuk pemerintah pusat, akademisi Pendidikan, LSM kredibel dan masyarakat lokal sekitar. Perkara ini bukan hanya menanam pohon saja tetapi juga harus memastikan bahwa tanah, air, udara dan kelautan bisa kembali seperti semula bersih dan layak untuk kembali dihuni.

Pemerintah pusat juga harus turun tangan untuk mencari sponsor untuk melibatkan peran media, sekolah, universitas dan instansi keagamaan. Lembaga tersebut bisa menjadi mitra untuk membangun kesadaran bersama, bahwa merusak alam berarti merusak masa depan kesehatan bangsa dan negara. 

Fenomena tambang yang terjadi di Raja Ampat bukan hanya kasus biasa. Hal itu harus menjadi refleksi bahwa bangsa ini tengah menghadapi krisis moral, krisis lingkungan, dan krisis Kesehatan. Jangan hanya reaktif karena masalahnya viral. Tapi kita harus terus bersama-sama mengawasi dan peduli, jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan yang akhirnya berdampak pada kesehatan masyarakat. (*)

 

*) Penulis adalah dosen pada Prodi Spesialis Medikal Bedah, Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#raja ampat #kulit #kesehatan #eksploitasi #sungai #alam #air #lingkungan #air bersih #bukit #pariwisata #foto #kesehatan mental #ekosistem #dermatitis #tambang