RadarBuleleng.id - Kasus infeksi HIV di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Bali, masih terdeteksi belasan orang setiap bulan.
Data tersebut diungkapkan oleh Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja, saat kegiatan Advokasi Media dan Pelatihan Jurnalistik bertajuk “Media Tanpa Stigma untuk Ending AIDS 2030” yang digelar AHF Indonesia bersama Kelompok Jurnalis Peduli AIDS Bali.
Menurut Dewa Suyetna, berdasarkan hasil pemeriksaan di wilayah Denpasar dan Badung, terdapat 15 kasus positif pada Juni 2025, 11 kasus pada Juli, dan kembali naik menjadi 15 kasus pada Agustus.
Sebagian besar yang terdeteksi merupakan laki-laki dengan risiko penularan melalui hubungan seksual sesama jenis.
“Rata-rata dari 15 orang yang positif, 10 diantaranya merupakan laki-laki dengan hubungan seksual sesama jenis. Data ini belum termasuk kelompok transgender,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanganan HIV saat ini adalah sulitnya deteksi dini karena masih adanya stigma sosial.
“Banyak yang enggan melakukan tes karena takut dikucilkan oleh lingkungan. Padahal, pemeriksaan dini sangat penting agar bisa segera mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan,” ujarnya.
Selain HIV, sejumlah kasus penyakit menular seksual lainnya seperti sifilis juga masih ditemukan di kelompok berisiko tinggi.
Dewa menilai, perlu keterlibatan lebih besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, dalam memperluas akses edukasi dan alat pencegahan.
“Distribusi kondom misalnya, seharusnya tidak hanya terbatas pada program keluarga berencana, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit menular,” tambahnya.
Ia menilai kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin mulai tumbuh, khususnya di kalangan pekerja seks di Denpasar dan Badung.
Namun, pendataan terhadap mereka yang bekerja secara daring masih menjadi kendala tersendiri.
“Kami tetap melakukan pendekatan langsung ke lokasi dan komunitas untuk memastikan mereka mendapatkan akses pemeriksaan,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Program AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia, Nana Widiestu menyebut stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan besar dalam upaya penanggulangan HIV.
“Kurangnya pemahaman masyarakat membuat banyak orang masih salah menilai HIV. Pencegahan yang sederhana dan efektif seperti penggunaan kondom perlu terus disosialisasikan secara bijak,” ujarnya.
Menurutnya, Bali termasuk daerah dengan penanganan HIV cukup responsif dan kini berada di peringkat 5–6 secara nasional.
“Pemerintah daerah sudah cukup terbuka berkolaborasi, dan kami melihat Bali bisa menjadi contoh baik bagi daerah lain dalam upaya pengendalian HIV,” tegasnya.
Dalam kegiatan yang sama, seorang penyintas HIV yang disapa Mbak Tyas (nama samaran) turut berbagi pengalaman.
Ia diketahui telah menjalani pengobatan sejak 2016 dan kini aktif menjadi relawan untuk mengedukasi para pekerja seks di Bali agar rutin melakukan tes HIV.
“Saya ingin membantu teman-teman agar tidak takut periksa. Lebih cepat tahu, lebih cepat ditangani,” ungkapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya