Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Terobosan Layanan Jantung di Bali: Ganti Katup Jantung Tanpa Bedah, Pasien Bisa Pulang 3 Hari

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 5 April 2026 | 07:48 WIB
ilustrasi operasi jantung. (Freepik)
ilustrasi operasi jantung. (Freepik)

 

RadarBuleleng.id - Bali International Hospital (BIH) Sanur terus memperkuat layanan kesehatan berstandar internasional. 

Salah satunya dengan menghadirkan prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI), yakni tindakan penggantian katup jantung tanpa operasi terbuka.

Teknologi ini menjadi alternatif penting bagi pasien penyakit jantung, terutama mereka yang berisiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka. 

Selama ini, banyak pasien kardiovaskular harus menghadapi keterbatasan pilihan terapi, bahkan terpaksa berobat ke luar negeri dengan biaya besar.

Dokter Spesialis Jantung Intervensi, dr. I Made Junior Rina Artha, Sp.JP (K) menjelaskan, prosedur TAVI dilakukan dengan memasukkan katup jantung buatan melalui pembuluh darah di paha menuju jantung.

“Prosedur ini dilakukan secara transkateter tanpa pembedahan. Alat dimasukkan lewat pembuluh darah di paha untuk menggantikan katup aorta yang sudah menyempit atau mengerut,” ujarnya.

Menurutnya, metode tersebut dinilai lebih aman dengan risiko minimal, khususnya bagi pasien lanjut usia yang mengalami penyempitan katup aorta berat atau aortic stenosis. Pasien yang menjalani prosedur ini umumnya dapat pulang dalam waktu 48 hingga 72 jam.

“Dengan TAVI, kami dapat memberikan alternatif terapi yang lebih aman dan efektif dengan proses pemulihan yang lebih cepat. Kolaborasi tenaga ahli dalam dan luar negeri ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan standar layanan jantung intervensi di Indonesia,” tambahnya.

Junior menjelaskan, penyempitan katup aorta menyebabkan aliran darah dari ventrikel kiri menuju aorta menjadi berkurang. Kondisi ini sering memicu keluhan sesak napas hingga nyeri dada, terutama saat beraktivitas.

“Kalau katup sudah mengerut, otomatis aliran darah menurun. Pasien biasanya mengeluh sesak dan nyeri dada,” jelasnya.

Sebelum teknologi ini tersedia, kasus stenosis aorta berat umumnya ditangani melalui operasi bedah jantung terbuka. Dengan TAVI, tindakan dapat dilakukan tanpa sayatan besar dan prosesnya relatif cepat, yakni sekitar dua jam.

“Setelah itu, pasien sudah bisa mobilisasi dalam waktu singkat,” katanya.

Di Bali, sejauh ini baru dua pasien yang menjalani prosedur TAVI. Keduanya berusia di atas 70 tahun dan mengalami penyempitan katup aorta yang sangat berat. 

Sebelum tindakan dilakukan, kedua pasien mengeluhkan sesak napas saat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau naik tangga.

“Saat ini kedua pasien sudah kami lakukan follow-up. Kondisinya membaik dan kami harapkan kualitas hidup mereka juga meningkat,” ujarnya.

Secara global, teknologi TAVI telah berkembang pesat. Namun di Indonesia, prosedur ini masih tergolong jarang dilakukan. Diperkirakan jumlah tindakan TAVI di Indonesia masih di bawah 50 kasus.

“Kasus ini sebelumnya sudah dilakukan di beberapa pusat layanan di Jakarta dan Makassar. Untuk Bali, ini adalah yang pertama,” kata dr. Junior.

Meski menawarkan banyak keuntungan, salah satu tantangan utama dari prosedur ini adalah biaya yang masih relatif tinggi. Namun dari sisi kenyamanan dan masa pemulihan, TAVI memberikan manfaat besar bagi pasien.

“Keuntungannya jelas, tanpa pembedahan, tanpa sayatan besar, dan pasien bisa lebih cepat beraktivitas kembali,” jelasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#operasi jantung #Bali International Hospital #bali #operasi #jantung