Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Antisipasi Wabah, Dinkes Buleleng Petakan Risiko Penyakit Menular

Francelino Junior • Senin, 4 Mei 2026 | 14:38 WIB
Ilustrasi bentuk virus Influenza A yang menyebabkan lonjakan kasus flu di Indonesia.
Ilustrasi bentuk virus Influenza A yang menyebabkan lonjakan kasus flu di Indonesia.

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah melalui pemetaan risiko penyakit infeksi emerging (PIE). 

Langkah strategis tersebut dibahas dalam pertemuan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang digelar di ruang rapat Dinkes Buleleng, Senin (4/5/2026).

Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinkes Buleleng, Nyoman Suardani, mengatakan forum tersebut juga melibatkan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Bali. 

Pembahasan difokuskan pada empat penyakit prioritas, yakni covid-19, avian influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV), serta meningitis streptococcus suis.

Suardani menegaskan, pemetaan risiko menjadi instrumen penting untuk mengukur kesiapan daerah secara objektif. 

Dengan pemetaan yang rutin dilakukan setiap tahun, pemerintah daerah dapat memastikan kapasitas penanganan tetap terjaga.

“Setiap tahun kita melakukan penilaian risiko untuk melihat sejauh mana kesiapan dan kapasitas kita. Ini penting agar ketika terjadi kasus, kita tidak lagi dalam kondisi tidak siap seperti saat awal pandemi covid-19,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman pandemi covid-19 menjadi pelajaran penting bagi penguatan sistem kesehatan, baik dari sisi vaksinasi maupun penanganan kasus di lapangan.

Dalam pemaparan sementara, Dinkes Buleleng mengungkap bahwa rencana kontijensi kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Kelemahan pada aspek ini dinilai memengaruhi hasil penilaian risiko secara keseluruhan.

“Rencana kontijensi kesehatan harus kita perkuat, karena itu menjadi acuan operasional saat terjadi kondisi darurat. Tanpa itu, respons kita tidak akan optimal,” kata Suardani.

Dokumen pemetaan risiko tersebut disusun berdasarkan data dari seluruh OPD yang dihimpun dalam pertemuan sebelumnya pada 11 Maret 2026. 

Analisis dilakukan dengan pendekatan tiga komponen utama, yakni ancaman, kerentanan, dan kapasitas.

Menurut Suardani, intervensi pemerintah daerah akan difokuskan pada aspek kerentanan dan kapasitas, karena keduanya masih bisa ditingkatkan melalui kebijakan dan langkah konkret.

Selain itu, mobilitas jemaah haji dan umrah turut menjadi perhatian, khususnya terkait potensi penularan MERS-CoV dan meningitis meningokokus dari Arab Saudi. Tahun ini, Buleleng mengirim 109 jemaah haji reguler, di luar jemaah umrah.

“Mobilitas jemaah ini menjadi salah satu faktor risiko yang harus kita antisipasi bersama,” ujarnya.

Selanjutnya, dokumen pemetaan risiko akan diunggah ke sistem Kementerian Kesehatan dan dijadikan pedoman bagi seluruh OPD dalam menghadapi potensi penyakit emerging. 

Dokumen tersebut diperbarui setiap tahun, sementara rencana kontingensi berlaku untuk periode tiga tahun. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#flu burung #kesehatan #pandemi #buleleng #penyakit