Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Angka Stunting Buleleng Turun Jadi 3,35 Persen, Wabup Supriatna Optimistis Tekan Kasus Lebih Rendah

Francelino Junior • Kamis, 25 Juni 2026 | 05:49 WIB
Ayah diminta ikut berperan dalam mencegah stunting. Sebab kedekatan emosional juga sangat berpengaruh.
Ayah diminta ikut berperan dalam mencegah stunting. Sebab kedekatan emosional juga sangat berpengaruh.

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pemkab Buleleng terus mengintensifkan berbagai program percepatan penurunan stunting. 

Berkat sejumlah intervensi yang telah dijalankan, angka stunting di Buleleng kini berada di level 3,35 persen berdasarkan data pendataan dan pelaporan kesehatan tahun 2025.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Buleleng untuk terus menekan angka stunting hingga lebih rendah lagi pada tahun-tahun mendatang.

Komitmen itu ditegaskan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna yang juga menjabat Ketua TPPS Kabupaten Buleleng saat memimpin Rapat Koordinasi TPPS di Ruang Rapat Lobby Kantor Bupati Buleleng, Rabu (25/6/2026).

Menurut Supriatna, penanganan stunting merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang harus mendapat perhatian serius, sejajar dengan upaya pengendalian inflasi dan pengentasan kemiskinan ekstrem.

"Ketiga isu tersebut merupakan program prioritas pemerintah pusat yang wajib kita laksanakan di daerah. Karena itu, upaya percepatan penurunan stunting harus terus menjadi perhatian bersama seluruh pihak," ujarnya.

Ia menjelaskan, meskipun terdapat perbedaan angka stunting dari berbagai sumber data, hal tersebut tidak boleh mengurangi semangat seluruh pihak untuk terus melakukan upaya pencegahan dan penanganan secara berkelanjutan.

"Apapun hasil datanya, kewajiban kita adalah terus melakukan berbagai langkah dan intervensi agar angka stunting di Kabupaten Buleleng dapat terus ditekan," tegasnya.

Untuk mempercepat penurunan stunting, Pemkab Buleleng telah menjalankan berbagai program intervensi, mulai dari skrining anemia bagi remaja putri, pemberian tablet tambah darah untuk remaja dan ibu hamil, hingga pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita yang mengalami kekurangan gizi.

Selain itu, pemantauan tumbuh kembang balita, edukasi pemberian ASI eksklusif, serta pelayanan penanganan gizi buruk juga terus diperkuat di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng.

Tak hanya fokus pada intervensi gizi, pemerintah daerah juga mengembangkan Posko Praktik Baik sebagai sarana deteksi dini kondisi kesehatan calon pengantin. 

Melalui program ini, calon pasangan suami istri mendapatkan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah guna mencegah faktor risiko yang dapat memicu stunting.

Program tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari desa adat, tenaga kesehatan, Kementerian Agama, hingga Tim Pendamping Keluarga.

Langkah lainnya dilakukan melalui pendampingan pasangan usia subur serta peningkatan kualitas sanitasi lingkungan. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah munculnya kasus stunting baru di tengah masyarakat.

Supriatna menegaskan, keberhasilan menekan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, relawan, komunitas, hingga masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi berbagai pihak yang selama ini aktif mendukung program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Buleleng.

"Dengan intervensi yang terpadu, kerja sama yang kuat, dan komitmen seluruh pihak, saya optimis angka stunting di Kabupaten Buleleng dapat terus ditekan sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing," pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kemiskinan ekstrem #inflasi #data #stunting #buleleng