SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Status anjing liar yang menggigit tiga anak di Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, hingga kini belum dapat dipastikan terjangkit rabies atau tidak.
Penyebabnya, sampel dari hewan tersebut tidak sempat diambil dalam batas waktu yang ditentukan setelah dieliminasi.
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan karena waktu ideal pengambilan sampel telah terlewati.
"Nah, anjingnya ini kan sudah dieliminasi. Jadi sebenarnya punya waktu dua jam untuk mengambil sampel, tapi itu kejadiannya sudah kemarin. Nggak bisa diambil sampelnya. Jadi untuk meyakinkan rabies atau tidak, susah," katanya, Senin (29/6/2026).
Meski demikian, Melandrat menyebut perilaku anjing tersebut mengarah pada ciri-ciri hewan yang diduga terinfeksi rabies.
Berdasarkan rekaman CCTV yang beredar, anjing itu menyerang beberapa anak secara beruntun tanpa adanya provokasi.
Menurutnya, hewan yang terinfeksi rabies umumnya bersifat agresif dan menyerang apa pun yang berada di sekitarnya sebagai bentuk respons mempertahankan diri.
Ia juga menilai kemunculan anjing liar di kawasan Jalan Jalak Putih tergolong tidak biasa.
Pasalnya, mayoritas warga di wilayah tersebut beragama Islam sehingga relatif sedikit memelihara anjing. Karena itu, hewan tersebut diduga berasal dari luar lingkungan setempat.
Sebagai langkah antisipasi, Distankan Buleleng akan melakukan vaksinasi terhadap anjing-anjing yang berada di sekitar lokasi kejadian guna mencegah potensi penyebaran virus rabies.
"Kami akan lakukan vaksinasi. Karena tidak tahu, apakah anjing itu juga sudah dapat bergaul ke sana kemari? Atau saling menggigit? Artinya anjing yang ada di sana kami vaksinasi agar tidak menyebar virusnya," tegas Melandrat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, memastikan seluruh korban gigitan telah mendapat penanganan sesuai prosedur, mulai dari perawatan luka hingga pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi medis.
Penanganan tersebut dilakukan puskesmas dengan berkoordinasi bersama Dinas Pertanian terkait penanganan hewan penular rabies.
"Setiap kasus gigitan pasti diatensi oleh puskesmas, baik untuk penanganan luka, maupun pemberian VAR/SAR bila sesuai indikasi. Kami berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat untuk penanganan anjingnya. Semua ini sudah merupakan alur penanganan rabies di layanan kesehatan," terang dr. Raka.
Ancaman rabies di Bali sendiri masih tergolong tinggi. Berdasarkan data hingga 19 Juni 2026, tercatat 34.561 kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di seluruh Bali.
Khusus di Kabupaten Buleleng, hingga kini tercatat ada 3.930 kasus gigitan hewan atau 23 kasus gigitan per harinya.
Seperti diberitakan sebelumnya, insiden terjadi pada Jumat (26/6/2026) malam. Dalam rentang waktu sekitar satu jam, seekor anjing liar menggigit tiga anak di lokasi berbeda di wilayah Kelurahan Banyuasri.
Korban pertama, Achmad Yasin Alfiansyah, 6, digigit saat bermain di depan warung ubi bakar milik orang tuanya di Jalan Ahmad Yani, sebelah barat Jembatan Banyuasri, sekitar pukul 20.00 WITA.
Tak lama berselang, anjing tersebut kembali menyerang Adam Malik Aljabbar, 7, yang tengah bermain di depan rumahnya di kawasan Jalan Jalak Putih.
Korban ketiga, Yuna Alfathunissa, 7, menjadi korban sekitar pukul 21.00 WITA ketika bermain bersama temannya. Rekaman CCTV saat Yuna diserang kemudian viral di media sosial. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya