SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Banyak orang tua masih menganggap tumbuh kembang anak akan berjalan dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, anggapan tersebut justru bisa berdampak pada masa depan buah hati.
Periode 1.000 hari pertama kehidupan menjadi fase paling krusial karena pada masa inilah sebagian besar perkembangan otak anak berlangsung.
Dokter Spesialis Anak RSUD Buleleng, dr. Ni Komang Tri Apriastini, Sp.A., mengingatkan bahwa ayah dan ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Karena itu, orang tua seharusnya mulai mempersiapkan diri bahkan sebelum sang buah hati lahir.
Menurut dr. Apri, fase 1.000 hari pertama kehidupan dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi sehingga membutuhkan perhatian serius, terutama dalam pemenuhan gizi dan stimulasi.
Salah satu persoalan yang kini banyak disorot adalah kekurangan zat besi. Karena dimulai sejak kehamilan, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi harian, serta rutin memeriksakan kandungan ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
"Orang tua belajar dulu sebelum menjadi orang tua. Jangan setelah punya anak baru mulai belajar. Sekarang sumber informasi sudah sangat banyak, tetapi jangan semua influencer langsung dipercaya," ujar dr. Apri.
Ia menilai masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya kualitas nutrisi selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Tidak sedikit yang menganggap anak sudah sehat hanya karena lahap makan, padahal kandungan gizinya belum tentu memenuhi kebutuhan tumbuh kembang.
Sebagai contoh, anak hanya diberi nasi putih dengan lauk makanan olahan seperti nugget atau sosis. Padahal menu anak seharusnya mengandung gizi seimbang yang terdiri atas karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta lemak sehat.
Selain gizi, stimulasi sensorik juga menjadi fondasi penting dalam perkembangan anak. Sayangnya, banyak orang tua justru melarang anak bermain di alam karena khawatir kotor atau sakit.
Menurut dr. Apri, anak perlu diberi kesempatan mengenal berbagai tekstur, mulai dari berjalan di atas rumput, kerikil, hingga bermain tanah liat. Aktivitas tersebut merupakan bagian penting dalam proses belajar.
"Kalau tidak kotor, ya tidak belajar," katanya.
Hal lain yang kerap dianggap sepele adalah penggunaan gawai. dr. Apri menegaskan anak pada masa 1.000 hari pertama kehidupan sebaiknya tidak mendapatkan paparan layar atau screen time.
Ia mencontohkan, masih banyak orang tua yang memberikan telepon genggam kepada bayi berusia sekitar enam bulan agar lebih mudah makan. Cara instan tersebut memang memudahkan orang tua, tetapi dapat berdampak terhadap perkembangan anak.
"Penggunaan gadget pada 1.000 hari pertama kehidupan dilarang. Tidak boleh ada screen time. Sekarang banyak orang tua memilih cara yang praktis, padahal dampaknya cukup besar," tegasnya.
Dalam memenuhi kebutuhan gizi, dr. Apri menyarankan orang tua mengutamakan karbohidrat sebagai sumber energi, dilengkapi protein hewani seperti daging merah yang kaya zat besi, protein nabati dari tahu dan tempe, sayuran, serta lemak sehat.
Meski demikian, ia melihat kesadaran orang tua saat ini mulai meningkat. Terutama pasangan muda yang lebih mudah memperoleh informasi kesehatan melalui media digital maupun akun dokter spesialis anak di media sosial.
Kemudahan akses informasi itu dinilai membantu orang tua lebih cepat mengenali tanda-tanda gangguan tumbuh kembang sehingga tidak terlambat berkonsultasi dengan dokter.
Menurutnya, pemeriksaan rutin setiap bulan di Posyandu menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk memantau pertumbuhan anak. Bila ditemukan berat badan yang tidak sesuai target atau keterlambatan perkembangan, orang tua sebaiknya segera mencari pendapat dokter spesialis anak.
"Misalnya berat badan tidak naik sesuai usia, padahal orang tua merasa anaknya makan banyak. Bisa jadi gizinya belum mencukupi. Atau anak terlambat bicara karena dianggap nanti juga bisa sendiri. Kalau ada masalah sedikit saja, segera konsultasikan," pesannya.
Selain persoalan tumbuh kembang, dr. Apri juga mengingatkan bahwa anak tidak luput dari risiko kanker. Penyakit tersebut terjadi ketika sel-sel tubuh kehilangan kemampuan untuk menghentikan proses pembelahan sehingga terus berkembang tanpa kendali dan menekan sel sehat.
Mengacu pada National Cancer Institute, penyebab pasti kanker pada anak hingga kini belum diketahui. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan penyakit tersebut berkaitan dengan perubahan gen atau mutasi DNA yang terjadi sejak awal kehidupan, bahkan sebelum bayi dilahirkan.
Ia menegaskan kanker pada anak bukan penyakit menular maupun penyakit keturunan.
Menurut dr. Apri, sejumlah faktor seperti paparan makanan yang mengandung banyak bahan pengawet, radiasi, dan polusi diduga dapat mempercepat pertumbuhan sel kanker.
"Faktor-faktor tersebut bisa memicu pertumbuhan sel kanker menjadi lebih cepat," ujar dokter yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan subspesialis Hemato-Onkologi Anak di Universitas Indonesia.
Kanker pada anak sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai penyakit biasa. Orang tua perlu mewaspadai berbagai tanda seperti pucat, perdarahan, demam berkepanjangan, muncul bintik putih pada mata, benjolan di leher, ketiak, selangkangan atau perut, nyeri tulang, penurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, gangguan penglihatan, hingga perubahan perilaku.
Semakin cepat gejala dikenali dan diperiksakan ke dokter, semakin besar peluang anak memperoleh pengobatan yang optimal.
Di Indonesia sendiri, angka kelangsungan hidup anak penderita kanker masih berkisar 20 hingga 30 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi keterlambatan diagnosis, belum meratanya fasilitas kesehatan, serta akses terapi yang masih terbatas.
Karena itu, dr. Apri mengimbau orang tua tidak hanya membawa anak ke fasilitas kesehatan saat sakit.
"Pantau pertumbuhan dan perkembangan anak setiap bulan di Posyandu karena gratis. Kalau perlu, konsultasikan langsung ke dokter spesialis anak. Jangan menunggu sakit atau terlambat baru datang," pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng