Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jumlah Kelas Menengah Merosot, Ancaman PHK Kian Tinggi. Ojol Bisa jadi Solusi Sementara

Jawapos Source control • Jumat, 20 September 2024 | 00:59 WIB

 

Ilustrasi ojek online
Ilustrasi ojek online

RadarBuleleng.id - Penurunan kelas menengah di Indonesia semakin diperparah oleh gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor. 

Kondisi itu menjadikan situasi masyarakat semakin rumit. Tutupnya industri manufaktur menyebabkan gelombang PHK muncul. Masyarakat pun semakin tidak berdaya.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, pekerjaan sebagai pengemudi ojek online (ojol) dianggap sebagai solusi bagi mereka yang terancam pengangguran.

Budi Santoso, pakar Hukum Ketenagakerjaan dari Universitas Brawijaya menjelaskan, pilihan untuk menjadi pengemudi ojol menjadi lebih rasional di tengah kesulitan ekonomi.

Meskipun banyak yang pekerjaan formal tetap menjadi dambaan, karena memberikan kepastian penghasilan.

Hal tersebut tercermin dari hasil riset Pusat Pengembangan Hukum Ketenagakerjaan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Riset yang dirilis pada September 2024 menunjukkan bahwa 77,5 persen responden pengemudi ojol ingin beralih ke pekerjaan lain. 

Namun, mereka terhambat oleh berbagai alasan, terutama kurangnya lowongan pekerjaan formal yang sesuai dengan keterampilan mereka.

“Beralih pekerjaan bagi pengemudi ojol membawa risiko dan beban psikologis yang signifikan, karena mereka sering dihadapkan pada dilema ekonomi yang sulit,” kata Budi sebagaimana diberitakan JawaPos.com pada Kamis (19/9/2024).

Hasil survei juga mengindikasikan bahwa banyak responden sebelumnya bekerja di sektor formal atau sebagai pekerja swasta. 

Namun, karena sebagian besar terikat kontrak kerja (PKWT) yang tidak diperpanjang, mereka beralih menjadi pekerja gig yang mencakup pengemudi transportasi online, kurir lepas, dan layanan berbasis aplikasi digital lainnya. 

Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, dari Januari hingga Agustus 2024, sebanyak 46.240 karyawan mengalami PHK, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun.

Gelombang PHK tersebut terjadi akibat perlambatan ekonomi yang membuat banyak perusahaan di berbagai sektor kesulitan.

Budi berpendapat pengemudi ojol masih menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan tidak bekerja sama sekali. Fleksibilitas waktu dan pendapatan harian menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Terpisah, pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Fitra Faisal menyebut hambatan untuk memasuki ekonomi gig sangat rendah, sehingga siapa pun bisa terjun ke sektor ini.

“Kita tidak bisa menutup ekonomi gig; siapa pun bisa bergabung. Namun, semakin banyak orang yang terlibat, maka potongan kue yang didapat akan semakin kecil. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan aplikator, tetapi ini terkait dengan distribusi peluang,” ujarnya.

Oleh karena itu, Fitra menyarankan agar fokus saat ini adalah mencari cara untuk memperbesar pasar di sektor transportasi online agar industri ini lebih inklusif dan memberikan peluang yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ojek online #ojol #kelas menengah #phk