Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belajar Semangat Juang dari Buruh

Admin • Jumat, 2 Mei 2025 | 23:24 WIB

 

Sejumlah buruh membawa poster saat menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional 2025 di Kawasan Monas, Jakarta, Kamis (1/5/2025).
Sejumlah buruh membawa poster saat menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional 2025 di Kawasan Monas, Jakarta, Kamis (1/5/2025).

Opini oleh: Elinda Rizkasari*

HARI buruh, yang jatuh tiap tanggal 1 Mei merupakan momen untuk memperingati profesi Buruh yang ada di Indonesia. Kita tahu bahwa buruh adalah salah satu profesi yang banyak digeluti di Indonesia. 

Setahun belakangan, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menghantui para buruh. Seperti yang terjadi di Sritex Sukoharjo, disusul PT Yamaha Music Product Asia, dan PT Sanken Indonesia. Relokasi produksi, penurunan permintaan pasar, termasuk kebangkrutan menjadi pemicu PHK massal.

Kondisi buruh di Indonesia memang tidak baik-baik saja. Bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, upah buruh di Indonesia tergolong rendah. Velocity Global melaporkan, pada tahun 2025, upah minimum buruh di Indonesia menduduki peringkat ke-6. Meskipun Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi, disparitas upah antara negara-negara berkembang lain, masih cukup signifikan. Apalagi jika harus dibandingkan dengan negara maju.

Meski dengan upah yang relatif rendah, para buruh masih memiliki daya juang dan semangat untuk bekerja. Hal ini terlihat dari hasil wawancara eks buruh Sritex Sukoharjo, Jawa Tengah. Meski menjadi korban PHK, mereka tetap berusaha keras dalam menyambung hidup. Ketika terkena gelombang PHK massal, mereka menerimanya dengan ikhlas. Tidak ada aksi protes, demo, marah, atau gugat menggugat di pengadilan. 

Indonesia sebenarnya sudah mengalami titik cerah. Terutama setelah pandemi covid-19. Sepanjang pandemi, perusahaan dan UMKM mengalami ujian yang berat. Usaha yang mampu bertahan setelah pandemi Covid-19 diprediksi akan berjalan serta berdiri dengan baik. Tetapi prediksi tersebut salah besar. Buktinya, Sritex mampu melalui covid-19, namun perusahaan itu harus dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang.

Pemicunya kompleks. Tekanan ekonomi penurunan daya beli masyarakat sebagai dampak ikutan pandemi covid-19, melemahnya belanja dalam negeri, kelangkaan bahan baku, maraknya produk impor ilegal, devaluasi rupiah. Belum lagi Kebijakan pemerintah kenaikan pajak pertambahan nilai, pembatasan subsidi pemerintah, kenaikan premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), turut berpengaruh.

Semangat dan daya juang buruh, patut dicontoh. Terutama oleh para mahasiswa. Penelitian menunjukkan, daya literasi membaca mahasiswa mengalami penurunan. UNESCO menyatakan bahwa hanya satu dari 1.000 orang di Indonesia yang aktif membaca. Laporan itu menunjukkan betapa rendahnya tingkat membaca masyarakat Indonesia. 

Hasil survei PISA (Program Penilaian Siswa Internasional) juga menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki kemampuan membaca yang buruk dibandingkan siswa di negara lain.  Mahasiswa sebagai ujung tombak literasi bangsa, idealnya memiliki minat baca yang kuat.

Tentunya mahasiswa harus bisa mencontoh serta melihat para buruh. Meski mereka dalam serba kekurangan tetapi mereka terus berjuang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Apapun dilakukan. Bekerja dari pagi hingga bertemu pagi, semata-mata demi menyekolahkan anak mereka hingga lulus. Mahasiswa juga harus sadar diri, bahwa selama ini orang tua kita - yang barangkali seorang buruh - sudah banting tulang demi membayar SPP setiap semester. Buruh-buruh yang menjadi korban PHK melakukan berbagai cara untuk menyekolahkan anaknya. 

Mahasiswa bisa mengambil semangat dari para buruh. Salah satunya adalah semangat dalam mencari uang. Mereka bekerja keras dengan harapan mendapatkan upah yang layak, membangun masa depan yang lebih baik, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Tanamkan konsep di kepala bahwa di rumah, orang tua bekerja keras mencari uang untuk membiayai sekolah. Jangan sampai sudah bisa kuliah, tetapi tidak bersyukur. Melainkan hanya malas-malasan. 

Ciptakan suasana belajar yang nyaman, buat tujuan yang jelas, atur waktu belajar dengan baik, memilih metode belajar yang sesuai. Sesekali berikan self reward atau penghargaan pada diri sendiri apabila mencapai target. 

Lebih baik kita bekerja keras belajar di sekolah, supaya saat dewasa bisa memetik hasil yang positif. Tak perlu bermalas-malasan saat muda, karena saat tua nanti kita bisa saja dipaksa bekerja keras. (*)

 

*) Dosen pada Program Studi PGSD Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Surakarta, Jawa Tengah.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#indonesia #mahasiswa #buruh #upah #profesi #phk #demo #pandemi #phk massal #literasi #hari buruh