RadarBuleleng.id - Pemerintah memastikan kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan dalam APBN 2025 akan terus berlanjut hingga tahun depan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, langkah efisiensi harus dilakukan untuk menjaga kredibilitas fiskal. Sekaligus memastikan belanja negara lebih tepat sasaran.
Dalam rapat bersama DPR RI pada Selasa (20/5/2025), Sri Mulyani menjelaskan bahwa hasil evaluasi pelaksanaan anggaran tahun ini akan menjadi dasar penting dalam menyusun APBN 2026. Termasuk dalam menentukan pagu indikatif untuk setiap kementerian dan lembaga.
“Kita masih akan perlu memonitor ya, berbagai langkah-langkah efisiensi. Dan dari kehati-hatian tersebut tentu nanti penyusunan APBN 2026 akan menggunakan sebuah evaluasi tahun ini,” ujarnya.
APBN 2026 dirancang tetap disiplin. Defisit anggaran ditargetkan berada dalam kisaran 2,48 persen hingga 2,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini tidak jauh berbeda dari target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53 persen.
Sri Mulyani mengingatkan, APBN memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, setiap rupiah yang dikeluarkan harus diprioritaskan pada sektor-sektor strategis yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
“Kita akan lihat bagaimana mengoptimalkan instrumen APBN untuk stabilisasi atau counter cyclical (menstabilkan ekonomi), dan melindungi masyarakat atau dunia usaha,” tegasnya.
“Jadi kita akan tetap selektif karena APBN kan instrumen yang tidak tak terbatas,” imbuhnya.
Sri Mulyani juga menegaskan bahwa rancangan APBN 2026 telah mengakomodasi delapan agenda prioritas nasional atau Asta Cita yang dituangkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Karena itu, Kementerian Keuangan akan melakukan penyesuaian alokasi anggaran berdasarkan arahan program-program baru yang dikembangkan pemerintah mendatang.
“Kita optimalkan berdasarkan program-program dari Bapak Presiden,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu membeberkan proyeksi asumsi dasar ekonomi makro yang menjadi fondasi penyusunan RAPBN 2026.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,2 persen hingga 5,8 persen, sementara inflasi dijaga dalam rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, diperkirakan bergerak di antara Rp 16.500 hingga Rp 16.900 per dolar AS. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya