RadarBuleleng.id – Rusaknya ruas Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk di wilayah Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali, membuat sopir angkutan logistik kelimpungan.
Mereka harus menempuh jalur alternatif lewat Buleleng yang lebih jauh dan berat, sehingga memicu lonjakan biaya operasional hingga 50 persen.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bangunan di Bali.
Hal itu diungkapkan Sugiartoyo dari Gerakan Aliansi Pengemudi Bali (Gapiba). Ia mengatakan, sejak akses jalan di Tabanan amblas dan dialihkan melalui jalur Buleleng, para sopir mengalami kerugian signifikan.
Apalagi, banyak sopir yang tak mengetahui adanya kerusakan jalan dan terlanjur masuk ke wilayah Jembrana dan Tabanan, sehingga harus putar balik.
“Biaya BBM naik drastis karena jarak tempuh jadi hampir dua kali lipat. Belum lagi kemacetan dan medan jalan yang lebih berat,” ujar Sugiartoyo.
Selain itu, risiko kecelakaan meningkat dan kerusakan kendaraan menjadi lebih sering terjadi akibat kondisi jalan yang tidak biasa dilalui.
Menurutnya, beberapa sopir bahkan memilih berhenti sementara karena tidak semua perusahaan memberikan kompensasi biaya tambahan.
“Beberapa teman sopir mengalami kecelakaan atau kerusakan kendaraan. Yang tidak dapat tambahan biaya dari perusahaan, terpaksa berhenti dulu,” tambahnya.
Penurunan volume angkutan logistik ke Bali, lanjut Sugiartoyo, sebenarnya sudah terjadi sejak tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya beberapa waktu lalu. Situasi diperparah dengan terputusnya akses darat utama.
“Volume kendaraan logistik sudah menurun sejak kapal tenggelam. Sekarang makin berkurang karena jalur utama juga putus,” tegasnya.
Ia berharap perbaikan jalan segera rampung agar distribusi logistik kembali lancar dan tidak memicu lonjakan harga barang, terutama bahan bangunan.
“Kalau lebih dari sebulan seperti ini, pasti akan berdampak ke harga. Ongkos kirim naik, otomatis harga barang ikut naik,” ujarnya.
Sementara itu, perbaikan jalan amblas di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, terus dikebut. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Bali, Pramono Tri Yulianto, menyampaikan progres pengerjaan telah mencapai 60 persen.
“Pemasangan box culvert dan pengecoran sudah selesai. Sekarang kami masuk tahap pengurugan,” jelas Pramono.
Pengurugan akan dilakukan secara bertahap dan berlapis, dengan proses pemadatan di setiap lapisnya. Jika cuaca mendukung, badan jalan bisa mulai dimanfaatkan paling cepat dalam satu pekan kedepan, meskipun belum sepenuhnya diaspal.
“Tinggal pengurugan dan nanti pengaspalan. Progres aspal tinggal sekitar 10 persen karena luasan aspalnya tidak banyak,” tambahnya.
Meski sempat diguyur hujan, pihaknya tetap melanjutkan pekerjaan dengan antisipasi seperti pemasangan terpal. Selain itu, saluran air yang sempat jebol kini tengah dikebut pengerjaannya.
“Kami diberi waktu dua minggu untuk penutupan aliran irigasi, tapi tetap kami biarkan air mengalir dengan memasang pipa sementara di box culvert agar pekerjaan bisa jalan,” tutup Pramono. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya