Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Fadli Zon Sebut Rafles Perampok Budaya

Acep Tomi Rianto • Jumat, 3 Oktober 2025 | 06:12 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli zon Dorong Repatriasi Benda Bersejarah, Soroti Perbedaan Sikap London dan Belanda dalam Mengembalikan Aset Bangsa.
Menteri Kebudayaan Fadli zon Dorong Repatriasi Benda Bersejarah, Soroti Perbedaan Sikap London dan Belanda dalam Mengembalikan Aset Bangsa.

RadarBuleleng.id - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Gubernur Jenderal Inggris era kolonial, Thomas Stamford Raffles, sebagai 'perampok budaya yang luar biasa'.

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya berkelanjutan Pemerintah Indonesia untuk merepatriasi ribuan artefak bersejarah yang kini tersimpan di British Museum dan British Library di Inggris.

Menbud RI, Fadli Zon menyebut, Thomas Stamford Raffles, yang pernah memimpin Hindia Belanda di saat Indonesia dijajah Belanda, sebagai perampok budaya.

Fadli menyebut perampokan budaya banyak dilakukan saat peristiwa penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh Inggris pada tahun 1812.

"Raffles ini ya perampok budaya yang luar biasa, kalau boleh disebut perampok gitu ya, karena dalam Geger Sepehi itu dia mengambil, merampok Keraton Yogyakarta luar biasa pada bulan Juni," kata Fadli Zon dalam Taklimat Media Pengembalian Fosil Koleksi Eugene Dubois di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Fadli menyebut ada dua prasasti penting dari Indonesia yang juga diambil di era Raffles kala itu, yakni prasasti Pucangan dan prasasti Sangguran.

Adapun prasasti Pucangan kini ada di India, sedangkan prasasti Sangguran ada di Skotlandia. Menurutnya, Indonesia dengan India telah melakukan proses repatriasi, tapi belum ada kesepakatan.

"Satu lagi yang sedang kita usahakan adalah prasasti Sangguran. Prasasti ini, dua prasasti penting ini, karena prasasti Pucangan ini adalah riwayat dari raja-raja Airlangga, silsilah, semacam itulah," ujar Fadli.

Bukan hanya dua prasasti tersebut, Raffles juga mengambil banyak artefak bersejarah dari Indonesia lainnya.

Banyak peninggalan asal Tanah Air yang disimpan di British Museum.

"British Museum itu, dulu Raffles itu mengambil, kalau tidak salah, dalam Geger Sepehi tahun 1812, itu sampai empat kapal. Empat kapal itu yang dibawa ke Belanda. Tapi dua kapal kemudian tenggelam. Jadi ada dua kapal yang dibawa, itu menurut ceritanya," jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah sedang berusaha memulangkan semua aset sejarah asal Indonesia itu.

"Nah ini juga yang kita sedang usahakan adalah Inggris. Inggris ini banyak sekali mengambil secara tidak sah benda-benda koleksi kita, terutama pada tahun 1812 di eranya Raffles," Ucap Fadli.

Ungkap Hambatan Diplomatik

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan perkembangan program repatriasi benda-benda bersejarah.

Ia membandingkan respons dari dua negara eks-kolonial utama seperti Belanda dan Inggris.

"Belanda sudah menandatangani MoU untuk proses pengembalian (artefak). Tapi Inggris sampai sekarang tak mau mengembalikan," tegas Fadli Zon.

Perbedaan sikap ini menyoroti kompleksitas diplomasi budaya. Fadli Zon menyebut bahwa artefak dari Inggris sebagian besar berasal dari penjarahan saat Geger Sepehi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Item yang hilang mencakup ratusan manuskrip dan benda-benda budaya yang kini menjadi koleksi British Museum dan British Library. (*)

Editor : Eka Prasetya
#kebudayaan #museum #menteri #fadli zon #Keraton #rafles #British Museum #belanda #prasasti #budaya #british #perampok