Dalam kunjungan tersebut, Gibran didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster, serta Walikota Denpasar IGN Jaya Negara.
Gibran mengunjungi pasar tersebut untuk memantau langsung denyut perekonomian pasar terbesar di Bali itu.
Di sela kunjungan, Koster memaparkan capaian ekonomi Bali yang dinilainya cukup menggembirakan.
Pertumbuhan ekonomi Bali tercatat mencapai 5,82 persen. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan menempatkan Bali dalam lima besar pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Koster, daerah yang mencatat pertumbuhan lebih tinggi umumnya ditopang sektor pertambangan dengan jumlah pelaku usaha yang relatif terbatas.
Sementara Bali, yang bertumpu pada sektor jasa dan pariwisata, mampu mencatat 5,82 persen dalam rentang tujuh tahun terakhir.
Selain pertumbuhan ekonomi, inflasi Bali juga menunjukkan tren positif dengan angka 2,91 persen.
Ia menilai kombinasi pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat.
Ketimpangan pendapatan disebut terus menurun, yang berarti pembangunan semakin merata. Tingkat kemiskinan pun turun menjadi 3,24 persen, bahkan diklaim sebagai yang terendah secara nasional.
Koster menegaskan, sektor pariwisata masih menjadi tulang punggung ekonomi Bali dengan kontribusi mencapai 66 persen. Stabilitas kunjungan wisatawan turut menjaga pertumbuhan ekonomi tetap solid.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah persoalan krusial yang berpotensi melemahkan ekosistem pariwisata. Di antaranya keterbatasan infrastruktur, kemacetan, sistem transportasi, pengelolaan sampah, hingga ketersediaan air bersih.
Ia menilai, Bali sebagai destinasi wisata utama nasional belum mendapatkan porsi pembangunan infrastruktur yang proporsional dibanding kontribusinya terhadap negara. Pada 2024, devisa pariwisata Bali tercatat mencapai Rp 167 triliun dari total devisa pariwisata nasional sebesar Rp 312 triliun, atau sekitar 53,6 persen.
Menurut Koster, jika percepatan pembangunan infrastruktur tidak segera dilakukan, kualitas dan daya saing Bali berisiko tertinggal dari negara pesaing seperti Malaysia dan Thailand.
Karena itu, ia mendorong pendekatan percepatan pembangunan yang lebih progresif. Usulan tersebut juga telah disampaikannya dalam pertemuan dengan Komisi V DPR RI.
“Kita harus membangun dengan cara yang tidak biasa agar persoalan infrastruktur bisa segera teratasi,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya