Peneliti BRIN Paparkan Strategi Kontra-Terorisme Indonesia di Tiongkok

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:22 WIB
MELAWAN TERORIS: Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi (kiri), memaparkan strategi Indonesia dalam kontra-terorisme dalam Seminar Internasional Counter-Terorism di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MELAWAN TERORIS: Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi (kiri), memaparkan strategi Indonesia dalam kontra-terorisme dalam Seminar Internasional Counter-Terorism di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

RadarBuleleng.id - Peneliti dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi, memaparkan pengalaman Indonesia dalam menghadapi ancaman terorisme dalam Seminar Internasional Counter-Terorisme 2026 di Prefektur Otonomi Kazak Ili, Provinsi Xinjiang, Tiongkok, Selasa (4/8/2-26).

Dalam seminar bertajuk International Seminar on Counter-Terrorism 2026 tersebut, Nostalgiawan menjadi pembicara pada panel “Comprehensive Approaches to Addressing the Root Causes of Terrorism” atau Pendekatan Komprehensif untuk Mengatasi Akar Penyebab Terorisme.

Ia menjelaskan bahwa strategi kontra-terorisme Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah negara lain karena menggabungkan peran pemerintah dan partisipasi masyarakat.

“Indonesia memiliki dua sisi. Pertama, fokus peran negara tetap ada. Kedua, ada penguatan dari bawah. Inisiatif ini yang perlu dibagikan kepada semua negara,” ujar Nostalgiawan dalam forum tersebut.

Menurut dia, perbedaan struktur sosial dan sistem politik membuat setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam menangani ancaman terorisme.

Ia menjelaskan, di Tiongkok strategi kontra-terorisme lebih banyak berada dalam koordinasi pemerintah dengan mekanisme yang terstruktur. Sementara Indonesia setelah era reformasi mengembangkan pendekatan yang lebih terbuka dengan melibatkan masyarakat sipil.

Menurut Nostalgiawan, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam pencegahan terorisme di Indonesia.

“Ketika ada komunitas dari bawah yang peduli terhadap ancaman terorisme, maka itu menguntungkan posisi negara dan lebih mudah melakukan penanggulangan bersama yang berbasis sukarela,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan peran organisasi masyarakat Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dalam mendukung upaya pencegahan ekstremisme.

Menurutnya, kedua organisasi tersebut memiliki jaringan sosial yang luas hingga tingkat masyarakat akar rumput sehingga dapat menjadi mitra strategis pemerintah.

“Kedua organisasi ini memiliki jangkauan yang luas hingga struktur masyarakat paling bawah. Ini sesuatu yang tidak dimiliki semua negara,” kata Nostalgiawan.

Ia berharap pengalaman Indonesia dalam membangun pendekatan kontra-terorisme berbasis kemanusiaan, penghormatan terhadap kebebasan, dan hak asasi manusia dapat menjadi bahan pertukaran pengalaman dengan negara lain.

Selain Nostalgiawan, panel tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara internasional, yakni peneliti dari Chinese Academy of Social Science (CASS), perwakilan lembaga kontra-terorisme Irak, guru besar dari Minzu University of China, serta perwakilan Unit Anti-Teroris Angkatan Bersenjata Kenya.

Dalam forum tersebut, Utusan Khusus Pemerintah Tiongkok untuk Isu Timur Tengah, Zhai Jun, menyampaikan bahwa ancaman terorisme global masih menjadi tantangan serius.

Menurut Zhai, perkembangan kelompok teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS menunjukkan bahwa ancaman terorisme terus berubah dengan memanfaatkan konflik, ketidakstabilan kawasan, serta perkembangan teknologi.

“Terorisme adalah musuh bersama umat manusia,” kata Zhai.

Ia menilai pemberantasan terorisme tidak hanya dapat dilakukan melalui penindakan keamanan, tetapi juga harus menyasar akar persoalan melalui pengurangan kemiskinan, penyelesaian konflik, penguatan pembangunan, serta kerja sama internasional.

Zhai juga menekankan pentingnya kerjasama multilateral dalam menghadapi ancaman terorisme lintas negara.

Sementara itu, Ketua Dewan Komunitas Muslim Dunia, Ali Rashid Al Nuaimi, menyoroti pentingnya peran komunitas Muslim dalam melawan penyalahgunaan agama oleh kelompok ekstremis.

Ia menegaskan bahwa kelompok yang menggunakan simbol Islam untuk melakukan kekerasan justru merusak citra Islam.

“Terorisme yang bersembunyi di balik simbol-simbol Islam merupakan ancaman yang paling berbahaya bagi Islam itu sendiri,” ujar Al Nuaimi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
peneliti seminar terorisme BRIN riset