DENPASAR– Entah apa masalahnya, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali membuat kebijakan kepepet. Salah satunya terjadi dalam PORJAR Bali 2024.
Disdikpora Provinsi Bali kemarin mengumpulkan 23 koordinator Cabang Olahraga (Cabor) di Aula Disdikpora Provinsi Bali. Agendanya adalah melakukan koordinasi program PORJAR Bali tahun 2024 untuk membahas teknis dan kebutuhan pelaksanaan pertandingan dan melakukan koordinasi dengan pengurus cabor.
Kabid Pemuda dan Olahraga Disdikpora Provinsi Bali, I Made Dana Tenaya mempimpin rapat agenda tersebut. Dalam pemaparan, pria yang menakhodai Penprov Persatuan Senam Indonesia (Persani) Bali ini menyebut jika pada PORJAR Tahun 2024 ini hanya mempertandingakan 8 cabor resmi saja. Artinya, penyelenggaran delapan cabor akan didanai sepenuhnya oleh Disdikpora untuk PORJAR tahun ini.
Delapan Cabor tersebut yakni Bola Voli Indoor, Sepak Bola, Sepak Takraw, Pencak Silat, Bola Basket, Bulutangkis, Tenis Lapangan dan Tinju. “Seluruh Disdikpora di Kabupaten/Kota sudah setuju soal delapan cabor yang akan dipertandingan resmi dan kami biayai dalam PORJAR tahun 2024 ini. Hal ini karena keterbatasan anggaran,” ujar Dana Tenaya kemarin.
Artinya, dari 23 cabor tersebut, hanya delapan saja yang akan dibiayai secara penuh untuk pelaksanaan PORJAR. Sedangkan 15 Cabor lainnya, yakni Atletik, Senam, Renang, Panjat Tebing, Judo, Bola Voli Pasir, Tae Kwon Do, Karate, Tarung Derajat, Panahan, Balap Sepeda, Shorinji Kempo, Wushu, Menembak dan Cricket diminta untuk membuat PORJAR Gotong Royong.
“Untuk Cabor yang lain, kami akan membantu untuk honor juri pertandingan, tempat dan juga peralatan saja. Kami tidak bisa menganggarkan soal konsumsi dan lainnya. Sekarang mau nggak cabor menanggung pesertanya terutama soal akomodasi?,” ujarnya.
Jika tidak, maka Dana Tenaya meminta kepada cabor untuk tidak melaksanakan PORJAR 2024. “Saya minta cabor legowo. Jika induk organisasi tidak bisa melaksanakannya, maka tidak usah dilaksakanan (PORJAR) 2024 ini. Jangan dijadikan polemik karena kami terbentur anggaran, yang jelas Provinsi dan Kabupaten (Disdikpora) tidak punya akomodasi (anggaran),” sebutnya.
Keterbatasan anggaran ini, kata Dana Tenaya tak lepas dari pemerintah Provinsi Bali yang mengalami defisit anggaran yang mencapai Rp. 2 Triliun di tahun 2023 ini. Dampaknya sampai pada pelaksanaan PORJAR Tahun 2024. Jika dibanding PORJAR 2023 yang jumlah 43 cabor, maka PORJAR tahun 2024 karena keterbatasan anggaran, para cabor harus rela dipangkas.
“Saya berikan waktu seminggu untuk menyampaikan hal ini ke para pengurus cabor lainnya (15 Cabor). Apakah akan mau melaksanakan PORJAR Gotong Royong ini atau tidak? Setelah ada keputusan, kami bisa membuatkan Juknis (Petunjuk Teknis) PORJAR Gotong Royong sebagai pedoman di Kabupatn Kota,” ungkapnya.
Sebagai informasi, delapan Cabor yang dipilih oleh Disdikpora Bali ini merupakan Cabor beregu yang diprioritaskan masuk dalam Pra POPNAS 2024 atau sebelumnya dikenal dengan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil).
Menanggapi hal ini, Koordinator Cabor Balap Sepeda, I Nengah Sudira berharap dalam rapat koordinasi tersebut, 15 Cabor Gotong Royong ini bisa juga masuk Pra POPNAS 2024.
“Mohon nanti, supaya pembinaan prestasi berkeberlanjutan, semoga bisa nambah lagi agar ke Pra POPNAS,” ujarnya.
Namun hal tersebut pun tentunya tak memungkinan. Sebab, pihak Disdikpora Provinsi Bali sudah berulang kali menegaskan, yang masuk nantinya ke Pra POPNAS 2024 mendatang adalah delapan cabor sudah terpilih dan dipertandingankan dalam PORJAR 2024 Provinsi Bali. Hal ini tentunya kembali kepada alasannya utama, yakni keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemerintah Provinsi Bali. ***
Editor : Donny Tabelak