RadarBuleleng.id - Kabar tak sedap menyergap pecinta sepakbola Sumatra Utara. PSDS Deliserdang mau dijual.
Isu itu berkembang tajam dalam beberapa pekan terakhir. Langsung saja kenangan soal Sumut United yang berganti baju dan pindah menjadi Persikad Depok mengemuka.
Publik sepertinya kecewa, pasalnya PSDS bukan klub sembarangan. Tim ini telah melahirkan pesepakbola andal, sebut saja Ansyari Lubis yang kini melatih PSS Sleman.
Klub yang berjuluk Traktor Kuning ini juga sempat dibela oleh selebriti saat menjadi pesepakbola dulu, sebut saja komika Oki Rengga dan penyanyi Nyoman Paul jebolan Indonesia Idol itu.
Dari sisi prestasi, sejarah mencatat PSDS juga bukan kaleng-kaleng di kancah nasional.
Pada masa jayanya, PSDS sempat tampil di Divisi Utama Liga Indonesia 2009-2010.
Namun, persoalan finansial membuat klub mundur dari kompetisi setelah pelarangan penggunaan dana APBD bagi klub profesional.
PSDS pernah menjuarai Divisi I Liga Indonesia 1986–1987 dan runner-up Divisi I 2004, dan sebagainya.
Dengan kata lain, selain PSMS Medan, klub ini adalah kebanggaan Sumatra Utara.
Nyatanya, klub yang berkandang di Stadion Baharuddin Siregar Lubukpakam ini memang sedang terpuruk. PSDS kini bermain di Liga 3.
Isu penjualan merebak di media sosial dan portal lokal pada 20–21 Oktober 2025, dengan rumor harga jual sekitar Rp3 miliar.
Manajemen PSDS, lewat manajer Herman Sagita, menegaskan bahwa kabar itu tidak benar.
"Dengan tawaran segitu, mana mungkin dilepas. Kalau Rp30 miliar mungkin baru kita pertimbangkan," ujar Herman Sagita, Rabu (22/10/2025).
Pemerintah Kabupaten Deliserdang pun memanggil pihak klub untuk audiensi dan berujung kesepakatan bahwa PSDS tetap milik daerah dan tidak dijual.
Pemkab menyatakan siap membantu menjaga keberlangsungan PSDS sebagai ikon olahraga Deliserdang.
"PSDS adalah kebanggaan masyarakat kami. Tidak ada rencana penjualan, justru kami mendorong penguatan manajemen," ujar Asisten III Pemkab Deliserdang, mewakili bupati.
Masalahnya, meski rumor penjualan PSDS sudah dibantah, kemunculan isu ini bukan hal baru.
Dalam tiga tahun terakhir, PSDS beberapa kali dikabarkan siap dijual atau melepas saham, menandakan adanya tekanan finansial kronis yang belum terselesaikan.
Herman Sagita bahkan pernah menyatakan klub terbuka melepas 50–100 persen saham untuk menutup biaya operasional.
"Kami mau jual saham PSDS. Mau 50 ataupun 100 persen," kata Herman pada Juli 2023 silam.
Pada 2024, sejumlah portal lokal memberitakan PSDS tengah kesulitan dana setelah degradasi ke Liga 3.
Lalu 21 Oktober 2025, isu PSDS dijual kembali muncul, kali ini disebut-sebut akan dibeli pihak luar daerah.
Pihak luar yang dimaksud adalah Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, yang secara terang-terangan tertarik dengan PSDS.
Rekam jejak prestasi Traktor Kuning menjadi alasan kuat bagi Pemkot Bontang untuk melirik PSDS sebagai fondasi tim profesional baru.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris bahkan menyebut, proses penjajakan akuisisi masih berjalan.
Menurutnya, rebranding PSDS menjadi Bontang Khatulistiwa FC bukan sekadar pergantian nama, melainkan simbol kebangkitan olahraga di Kota Taman.
“Kami ingin menghadirkan kembali klub kebanggaan warga Bontang yang bisa bersaing di level nasional,” ujarnya.
Artinya, jika akuisisi terealisasi, Bontang Khatulistiwa FC berpeluang langsung tampil di Liga 3 dengan membawa lisensi PSDS Deli Serdang.
“Ini masih tahap penjajakan, belum ada penawaran resmi. Tapi harga kemungkinan sekitar Rp3 miliar,” pungkas Agus Haris. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya