Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kritik Tajam Radja Nainggolan ke Roberto Martinez, Singgung Taktik Belgia yang Monoton

Dianisa Damayanti • Jumat, 31 Oktober 2025 | 23:27 WIB
Radja Nainggolan, gelandang berdarah batak kini berstatus bebas transfer setelah terakhir bermain untuk klub Indonesia, Bhayangkara FC, pada musim 2024.
Radja Nainggolan, gelandang berdarah batak kini berstatus bebas transfer setelah terakhir bermain untuk klub Indonesia, Bhayangkara FC, pada musim 2024.

RadarBuleleng.id - Mantan gelandang Timnas Belgia berdarah Batak, Radja Nainggolan, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan kritik tajam kepada mantan pelatihnya, Roberto Martinez.

Nainggolan juga menilai bahwa kegagalan “generasi emas” Belgia dalam meraih trofi besar disebabkan oleh lemahnya taktik dan kepemimpinan Martinez selama memegang kendali skuad nasional.

Nainggolan, yang pernah memperkuat klub besar seperti AS Roma dan Inter Milan, menyebut bahwa Martinez bukanlah pelatih yang mampu memaksimalkan potensi para pemain bintang Belgia.

“Dia bukan ahli sepak bola. Ketika tim kesulitan, solusinya hanya bola ke Hazard, De Bruyne, atau Lukaku,” ujar Nainggolan.

Pemain berusia 37 tahun itu juga menilai Martinez gagal membangun sistem permainan yang solid di tubuh Timnas Belgia.

Menurutnya, taktik yang diterapkan terlalu monoton dan bergantung pada kemampuan individu, bukan kerja sama tim.

“Dengan skuad yang kami miliki, seharusnya Belgia bisa juara dunia atau setidaknya menembus final besar. Tapi kami seperti tim tanpa arah,” lanjutnya.

Kritik ini bukan yang pertama kali disampaikan Nainggolan.

Sejak dirinya dicoret dari skuat Belgia pada Piala Dunia 2018, ia kerap menyuarakan kekecewaannya terhadap manajemen tim dan keputusan-keputusan Martinez.

Bahkan Radja menganggap bahwa pelatih asal Spanyol itu tidak pernah benar-benar memahami karakter pemain Belgia.

Belgia dikenal memiliki generasi emas dengan nama-nama besar seperti Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Romelu Lukaku, dan Thibaut Courtois.

Namun, di bawah asuhan Roberto Martinez, mereka hanya mampu mencapai semifinal Piala Dunia 2018 dan gagal tampil konsisten di turnamen besar berikutnya.

Nainggolan menilai, kegagalan tersebut bukan semata karena mental pemain, tetapi karena strategi yang tidak berkembang.

“Kami tidak punya identitas permainan. Setiap kali kesulitan, Martinez selalu mengandalkan individu, bukan tim. Itulah kesalahan terbesar,” ujarnya menegaskan.

Komentar pedas ini kembali memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola Belgia.

Banyak yang menganggap kritik Nainggolan beralasan, mengingat potensi Belgia yang besar namun tidak sebanding dengan prestasinya.

Sebagian lain menilai pernyataannya sebagai bentuk kekecewaan pribadi karena tidak lagi dipanggil ke tim nasional.

Meski kini sudah tidak aktif di level tertinggi, Radja Nainggolan tetap menjadi sosok yang vokal dalam dunia sepak bola.

Pandangannya tentang kepemimpinan dan taktik Belgia menunjukkan bahwa ia masih peduli terhadap perjalanan tim yang pernah ia bela.

Dengan kritiknya terhadap Roberto Martinez, Nainggolan seakan mengingatkan publik bahwa talenta besar tanpa strategi matang hanya akan menghasilkan kegagalan.

Belgia mungkin memiliki pemain bintang, namun tanpa arah permainan yang jelas, “generasi emas” itu bisa kehilangan kilaunya selamanya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#roberto martinez #sepak bola #kritik #as roma #Klub #batak #pelatih #timnas #belgia #radja nainggolan #gelandang #inter milan