Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Olahraga Savate Resmi Hadir di Buleleng. Bidik Generasi Muda Salurkan Bakat Bela Diri Lewat Prestasi

Francelino Junior • Senin, 25 Mei 2026 | 04:48 WIB
PENGURUS ANYAR: Suasana pelantikan pengurus Federasi Savate Indonesia (FSI) Buleleng. Olahraga beladiri asal Prancis tersebut mulai digeluti generasi muda di Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)
PENGURUS ANYAR: Suasana pelantikan pengurus Federasi Savate Indonesia (FSI) Buleleng. Olahraga beladiri asal Prancis tersebut mulai digeluti generasi muda di Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Olahraga bela diri asal Prancis, Savate, kini resmi hadir di Kabupaten Buleleng. 

Kehadiran cabang olahraga tersebut ditandai dengan pengukuhan Pengurus Kabupaten Federasi Savate Indonesia (FSI) Buleleng di Taman Budaya Lovina, Minggu (24/5/2026).

Savate merupakan seni bela diri yang memadukan teknik tinju barat dengan berbagai variasi tendangan. 

Berbeda dengan beladiri lain, atlet savate wajib mengenakan sepatu khusus saat bertanding dan hanya diperbolehkan melakukan tendangan menggunakan kaki.

Ketua Umum Pengkab FSI Buleleng, I Gusti Bagus Ngurah Dipta Negara, mengatakan kehadiran savate diharapkan menjadi wadah positif bagi generasi muda Buleleng untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang bela diri.

“Kami ingin ajak anak muda berprestasi. Apalagi karakter Buleleng suka bertarung. Daripada di jalan, mending melalui savate,” ujarnya kepada Radar Buleleng.

Pria yang akrab disapa Turah Dipta itu menjelaskan, saat ini latihan savate di Buleleng dipusatkan di sebuah camp di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng. 

Hingga kini tercatat sekitar 50 atlet telah bergabung, mayoritas sudah memiliki dasar kemampuan bela diri.

Menurutnya, savate memiliki kemiripan dengan Muay Thai maupun kickboxing. Namun terdapat sejumlah aturan khusus yang membedakannya, seperti larangan penggunaan siku, lutut, maupun tulang kering saat bertanding.

“Dalam savate, tendangan harus lurus. Atlet juga wajib menggunakan sepatu dan sarung tinju,” jelasnya.

Ke depan, Pengkab FSI Buleleng berencana memperluas pengenalan olahraga tersebut, khususnya di kalangan generasi Z. Salah satu strategi yang disiapkan yakni memanfaatkan teknologi informasi dan media digital.

“Kedepan kami akan terus menarik minat Gen Z. Salah satunya melalui IT,” lanjutnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum FSI Bali, Deva Putra menyebut savate tidak hanya berpotensi melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga dapat mendukung sektor pariwisata melalui konsep sport tourism.

Menurutnya, Kabupaten Buleleng sebagai daerah tujuan wisata memiliki peluang besar mengembangkan event olahraga yang mampu mendatangkan peserta maupun wisatawan dari luar daerah.

“Ketika ada kejuaraan savate, otomatis pariwisata juga bergerak,” katanya.

Ia berharap kepengurusan baru FSI Buleleng mampu memperluas pengenalan savate sekaligus mencetak prestasi di tingkat regional maupun nasional. 

Terlebih, olahraga bela diri tersebut baru masuk ke Indonesia pada 2025 dan kini seluruh kabupaten/kota di Bali telah memiliki kepengurusan resmi.

“Kesolidan pengurus, tim pelatih, hingga program latihan kami tekankan kepada pengurus Savate Buleleng agar dapat meraih prestasi,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#savate #olahraga #beladiri #buleleng