SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Tata kelola pariwisata di Buleleng belum sepenuhnya aman bagi wisatawan. Hingga kini objek wisata tirta di Buleleng belum dilengkapi dengan life guard alias penjaga keselamatan. Padahal destinasi wisata di Buleleng didominasi oleh wisata tirta.
Saat ini penjaga keselamatan hanya tersedia di Pantai Sangsit. Sementara di lokasi lainnya, nihil penjaga keselamatan.
Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengaku selama ini destinasi di Buleleng belum optimal menyediakan life guard. “Selama ini guide jadi satu dengan life guard. Tahun ini akan kami tata. Tidak ada rangkap tugas,” kata Dody saat ditemui di Kantor Bupati Buleleng, Rabu (10/1).
Menurutnya sesuai dengan Perda Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali, setiap destinasi wisata tirta harus menyiapkan lifeguard. Baik itu destinasi berupa pantai, kolam renang, air terjun, arung jeram, maupun atraksi lainnya seperti jumping dan water sliding.
“Nanti harus ada yang stand by khusus mengawasi keselamatan. Jumlahnya disesuaikan dengan tingkat kunjungan tiap destinasi,” ujarnya.
Karena menyediakan lifeguard, maka pengelola destinasi pariwisata wajib menyediakan alokasi dana untuk jasa. Khusus destinasi yang dikelola oleh badan pengelola maupun BUMDes, maka upah lifeguard menjadi tanggung jawab pengelola. Sementara pada destinasi yang dikelola pemerintah, maka ditanggung Dinas Pariwisata Buleleng.
Sementara itu Ketua Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Buleleng, Agus Dharma mengungkapkan, aktivitas lifeguard sebenarnya sudah ada di Buleleng sejak tahun 2015 silam. Hanya saja mereka lebih banyak bergerak sebagai relawan alias tanpa bayaran.
Agus mengungkapkan dirinya selama ini lebih banyak melakukan aktivitas di Pantai Sangsit. Karena Desa Sangsit membuat surat keputusan khusus terkait tata kelola lifeguard di desa tersebut.
Ia pun menyambut baik langkah pemerintah yang akan menyediakan jasa lifeguard di tiap destinasi wisata tirta. Mengingat potensi kecelakaan di destinasi wisata cukup tinggi. Ditambah lagi sudah cukup banyak masyarakat yang mengantongi sertifikat keahlian sebagai Balawista.
“Sejak tahun 2019 sudah ada kader-kader untuk Balawista. Saat ini sudah ada 120 orang yang memiliki sertifikasi, mulai dari Tejakula sampai Gerokgak,” ujarnya.
Selain ketersediaan sumber daya manusia, ia berharap pemerintah juga bersedia menambah ketersediaan peralatan penyelamatan. Sehingga upaya penyelamatan menjadi lebih optimal.
Editor : Eka Prasetya