Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dampak Efisiensi Anggaran, Kunjungan Wisatawan Merosot Hingga 20 Persen

Juliadi Radar Bali • Jumat, 13 Juni 2025 | 17:36 WIB
STAGNAN: Suasana kunjungan di objek wisata Tanah Lot. Jumlah kunjungan wisatawan stagnan, bahkan cenderung menurun hingga 20 persen.
STAGNAN: Suasana kunjungan di objek wisata Tanah Lot. Jumlah kunjungan wisatawan stagnan, bahkan cenderung menurun hingga 20 persen.

RadarBuleleng.id - Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat mulai berdampak langsung pada sektor pariwisata di Provinsi Bali. 

Pemangkasan perjalanan dinas, baik dalam maupun luar negeri, turut menurunkan tingkat kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi unggulan di Bali.

Seperti yang terjadi di Tabanan. Sejumlah objek wisata yang jadi primadona, seperti Tanah Lot, Jatiluwih, dan Ulun Danu Beratan mengalami penurunan kunjungan.

“Penurunan kunjungan wisatawan berkisar antara 10 sampai 20 persen. Ini terjadi di berbagai destinasi utama seperti DTW Tanah Lot, Jatiluwih, dan Ulun Danu Beratan,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Tabanan, Anak Agung Ngurah Agung Satria Tenaya.

Menurutnya, efisiensi anggaran membuat sejumlah instansi membatalkan perjalanan dinas ke Bali. Bahkan dalam kegiatan rapat pun, jumlah peserta dibatasi. 

Baca Juga: APBN 2026 Tetap Fokus Efisiensi, Fokus Stabilkan Ekonomi

Padahal, kegiatan semacam ini selama ini menjadi salah satu pemicu tingginya okupansi hotel dan kunjungan ke obyek wisata.

“Kami menerima laporan, banyak instansi yang biasanya menggelar rapat atau kegiatan di Bali, tahun ini membatalkannya karena ada pembatasan anggaran. Otomatis, hunian hotel dan kunjungan ke destinasi juga ikut turun,” jelasnya.

Contohnya terlihat jelas di Tanah Lot. Biasanya saat libur sekolah seperti sekarang ini, destinasi ikonik tersebut dipadati rombongan siswa dari berbagai daerah yang melaksanakan study tour. Namun kini, lonjakan wisatawan tersebut tak lagi terlihat. 

“Biasanya kunjungan harian bisa mencapai 4.000 hingga 5.000 orang per hari. Sekarang sudah turun cukup signifikan,” ujarnya.

Dampak penurunan kunjungan ini juga merembet ke sektor hiburan dan atraksi budaya. Sejumlah hotel yang biasa memesan pertunjukan seni seperti tari Bali atau gamelan untuk jamuan makan malam, kini mulai sepi permintaan.

“Ketika wisatawan menurun, otomatis kebutuhan akan atraksi wisata seperti pementasan seni juga ikut berkurang. Ini berdampak ke pelaku seni dan budaya lokal,” ucapnya.

Tenaya menegaskan, kondisi ini turut memengaruhi perekonomian masyarakat yang selama ini menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata. 

"Efek domino dari kebijakan efisiensi ini membuat ekonomi lokal ikut lesu karena pendapatan masyarakat yang menurun," tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Pusat #efisiensi #destinasi #anggaran #Jatiluwih #pariwisata #hotel #perjalanan dinas #wisatawan #siswa #hiburan #rapat #objek wisata #tanah lot