RadarBuleleng.id – Bali mulai mengubah arah strategi pariwisatanya. Dari semula bertumpu pada pariwisata massal, kini Pemprov Bali mulai serius mengembangkan pariwisata kebugaran (wellness tourism) berbasis kekayaan alam dan budaya lokal.
Hal itu terungkap dalam Inter-Islands Tourism Policy (ITOP) Forum ke-26 yang digelar di Sanur, 20–23 Juni 2025. Forum ini diikuti 10 provinsi kepulauan dari 10 negara yang menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan.
Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengatakan, tren wisata dunia telah bergeser. Wisatawan kini lebih tertarik pada pengalaman yang sehat, alami, dan berkelanjutan.
“Wellness tourism sekarang bukan sekadar spa dan pijat. Ini mencakup gaya hidup, kualitas lingkungan, dan nilai budaya yang menyehatkan secara holistik,” ujar Dewa Indra di hadapan delegasi negara peserta, didampingi Wakil Gubernur Jeju, Korea Selatan, Myong Kee Jin.
Menurut Dewa Indra, Bali punya semua modal untuk mengembangkan sektor ini. Baik itu budaya yang hidup, alam yang asri, serta tradisi yang menjunjung keharmonisan antara manusia dan lingkungan.
“Pariwisata Bali ke depan bukan hanya soal jumlah kunjungan, tapi kualitas pengalaman. Kami ingin wisatawan datang untuk sembuh, tenang, dan terhubung dengan alam dan budaya,” tegasnya.
Perubahan arah kebijakan ini bukan tanpa alasan. Selama pandemi, Bali belajar bahwa ketergantungan pada wisata massal membuat sektor pariwisata sangat rentan.
Kini, Bali ingin membidik segmen wisatawan yang lebih sadar lingkungan, mencari pengalaman personal, dan siap tinggal lebih lama.
Dalam forum tersebut, para delegasi juga diajak mengunjungi Hutan Mangrove di Tahura Ngurah Rai sebagai bagian dari kampanye pariwisata berbasis alam.
Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya mengatakan, pariwisata kesehatan bukan hanya tentang layanan, tapi juga tentang ekosistem.
“Kesehatan lingkungan adalah bagian dari wellness. Kalau lingkungannya rusak, tidak mungkin bisa bicara kebugaran. Maka Bali serius membangun wisata yang ramah dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jeju, Myong Kee Jin, memuji langkah Bali yang mulai mengedepankan pariwisata berkelanjutan.
“Bali tidak hanya cantik secara alam, tapi juga kuat dalam budaya dan produk UMKM. Ini contoh nyata bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas,” ujarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya