RadarBuleleng.id - Memanasnya konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran mulai berdampak langsung pada sektor pariwisata Bali.
Sejumlah penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah dilaporkan terganggu, bahkan dibatalkan.
Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Senin (2/3/2026), sejumlah penumpang tampak kebingungan akibat pembatalan jadwal terbang.
Maskapai yang banyak melayani rute menuju Timur Tengah, seperti Qatar Airways membuka layanan customer service desk untuk melayani penumpang yang terdampak.
Tak hanya sektor penerbangan, pelaku usaha akomodasi di Bali juga mulai merasakan imbasnya.
Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, mengungkapkan tingkat pembatalan reservasi dari anggota asosiasinya meningkat signifikan sejak konflik bergulir.
“Sementara ini villa management dan villa rental melaporkan pembatalan sekitar 20 sampai 30 persen,” ujarnya.
Menurut Adnyana, penutupan jalur penerbangan di sejumlah negara akibat eskalasi perang menjadi pemicu utama. Dampaknya paling terasa dari pasar Eropa dan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu penyumbang wisatawan ke Bali.
Baca Juga: Pemkab Buleleng Habiskan Rp 14,1 Miliar untuk Penataan Pantai Lovina. Target Tuntas Dalam 4 Bulan
Anggota Komite III DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, menilai pemerintah perlu menunjukkan empati kepada wisatawan yang masih tertahan di Bali akibat ketidakpastian jadwal penerbangan. Situasi tersebut berpotensi memicu keresahan jika tidak ditangani secara cepat dan terkoordinasi.
Rai Mantra mengusulkan agar pemerintah pusat melalui kementerian terkait bersama pemerintah daerah membentuk satuan tugas (satgas) pelayanan bagi wisatawan terdampak.
“Satgas ini penting agar wisatawan yang belum bisa kembali tetap mendapat informasi dan pelayanan yang jelas. Ini bagian dari komitmen kita sebagai destinasi pariwisata budaya,” ujarnya.
Mantan Walikota Denpasar itu juga mengingatkan, pengalaman saat Perang Teluk 1991 yang memicu pembatalan massal kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi, termasuk Bali. Apalagi kini konflik Israel–AS dengan Iran sulit diprediksi kapan akan mereda.
Karena itu, seluruh pemangku kepentingan pariwisata di Bali diminta bersiap menghadapi berbagai skenario, termasuk mengantisipasi dampak terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang jumlahnya cukup besar di kawasan Timur Tengah.
"Semua harus diantisipasi sejak dini,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya