Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Libur Nyepi–Lebaran Tak Dongkrak Okupansi Hotel Bali, Kunjungan Wisman Justru Anjlok

Juliadi Radar Bali • Rabu, 25 Maret 2026 | 08:37 WIB

 

ANJLOK: Kunjungan wisatawan di Ulun Danu Beratan, Tabanan. Tingkat kunjungan wisatawan anjlok akibat pengaruh perang.
ANJLOK: Kunjungan wisatawan di Ulun Danu Beratan, Tabanan. Tingkat kunjungan wisatawan anjlok akibat pengaruh perang.

RadarBuleleng.id – Momentum libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026 belum mampu mendongkrak signifikan kinerja pariwisata Bali. 

Tingkat hunian kamar (okupansi) hotel hanya mengalami kenaikan tipis, sementara kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) justru menunjukkan tren penurunan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, menyebut kenaikan okupansi selama periode liburan hanya berada di kisaran 5 persen.

“Kalau sebelumnya sekitar 55–60 persen, meningkat ke 60–65 persen,” ujar pria yang akrab disapa Cok Ace itu pada Selasa (24/3/2026).

Padahal, rangkaian libur panjang tahun ini tergolong panjang. Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada 19 Maret, disusul Idul Fitri pada 21–22 Maret 2026. Kondisi tersebut sempat diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan.

Peningkatan okupansi pun hanya terasa di sejumlah kawasan wisata utama seperti Nusa Dua, Seminyak, Sanur, dan Ubud. Namun, secara umum, lonjakan tersebut dinilai belum memenuhi ekspektasi pelaku industri.

Menurut Cok Ace, kondisi ini dipengaruhi situasi global, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur penerbangan dan mobilitas wisatawan asal Eropa.

“Tahun ini peningkatan tidak sesuai harapan sebagai dampak kondisi di Timur Tengah. Wilayah tersebut merupakan hub penting bagi wisatawan Eropa,” jelasnya.

Dampak serupa juga dirasakan di objek wisata. Ulun Danu Beratan, Tabanan, mencatat penurunan signifikan kunjungan wisatawan asing.

Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Saputra, mengungkapkan jumlah wisman turun hingga 50 persen. Dari rata-rata 600 orang per hari, kini hanya berkisar 300 orang.

“Penurunan ini dipicu situasi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada mobilitas wisatawan,” jelasnya.

Meski demikian, penurunan wisman sedikit tertutupi oleh peningkatan kunjungan wisatawan domestik selama periode libur. Kunjungan wisatawan lokal naik sekitar 30 persen, dari rata-rata 600–700 orang per hari menjadi sekitar 1.100 orang.

Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya yang mampu menembus hingga 2.000 kunjungan per hari.

Selain itu, pola kunjungan juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya didominasi rombongan besar, kini wisatawan lebih banyak datang secara mandiri atau dalam kelompok keluarga kecil, dengan mayoritas berasal dari Jawa Timur, disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Pengelola pun terus berupaya menggenjot kunjungan dengan menyasar pasar domestik melalui promosi di sejumlah provinsi di Pulau Jawa. Diharapkan, puncak kunjungan selama libur panjang ini bisa mencapai 1.500 hingga 2.000 orang per hari. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#wisata #bali #eropa #timur tengah #hari raya #libur panjang #seminyak #hari raya nyepi #Ulun Danu Beratan #sanur #wisatawan mancanegara #pariwisata #phri #hotel #okupansi #idul fitri #cok ace #ubud #wisatawan #nyepi #liburan #tabanan #Nusa Dua #tahun baru saka #wisman