Wisatawan Asing Makin Ramai ke Bali, Tapi Durasi Menginap dan Sewa Hotel Makin Sepi

I Wayan Widyantara • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 14:21 WIB
ATRAKSI: Wisatawan tampak menunggangi unta. Atraksi tersebut menjadi salah satu atraksi yang diminati wisatawan mancanegara. (Marsellus Pampur/Radar Bali)
ATRAKSI: Wisatawan tampak menunggangi unta. Atraksi tersebut menjadi salah satu atraksi yang diminati wisatawan mancanegara. (Marsellus Pampur/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali masih tergolong sangat tinggi sepanjang Agustus 2026. 

Kendati demikian, ramainya wisman yang melawat ke Bali belum berbanding lurus dengan lamanya waktu liburan maupun pemulihan tingkat hunian kamar hotel secara maksimal.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengungkapkan bahwa wisatawan asal Australia masih memegang kendali sebagai pasar utama pariwisata Bali, dengan menyumbang hampir seperempat dari total seluruh kedatangan turis asing.

Sayangnya, tingginya arus masuk turis tidak serta-merta memperlama durasi mereka menghabiskan waktu di akomodasi wisata.

Data BPS Bali menunjukkan tren durasi menginap tamu—baik asing maupun domestik—di hotel berbintang justru terus melandai. 

Pada Agustus 2026, rata-rata tamu hanya menginap sekitar 2,7 malam. Angka ini lebih singkat dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama di tahun lalu.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingkat keterisian kamar hotel berbintang. 

Kendati sempat menunjukkan kenaikan tipis dibanding bulan sebelumnya, tingkat hunian hotel secara umum belum mampu menyamai capaian manis pada periode yang sama tahun lalu.

”Artinya, kenaikan jumlah kunjungan bulanan belum cukup kuat untuk mengembalikan tingkat hunian hotel ke posisi ideal seperti tahun sebelumnya,” jelas Hendrayana.

Satu persoalan klasik yang kembali terlihat adalah belum meratanya kue pariwisata Bali. Jika menghitung seluruh jenis akomodasi (berbintang dan non-bintang), tingkat hunian kamar di Bali hanya berada di kisaran separuh dari total kapasitas yang tersedia.

Kabupaten Badung masih menjadi pusat keramaian dengan tingkat keterisian kamar tertinggi di Bali. 

Sebaliknya, wilayah Bali Barat seperti Kabupaten Jembrana mencatatkan tingkat hunian paling rendah dan belum tersentuh dampaknya secara optimal.

”Perbedaan yang cukup kontras ini memperlihatkan bahwa pergerakan dan aktivitas pariwisata memang belum tersebar merata ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
Berita Bali Hari Ini Hotel Bali bps bali pariwisata bali wisatawan australia