Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dosen di Undiksha Jadi Profesor Berkat Lontar Taru Premana

Eka Prasetya • Kamis, 18 Januari 2024 | 12:30 WIB

 

PROFESOR: Guru besar bidang ilmu kajian pendidikan kimia Undiksha, Prof. Dr. Drs. I Gusti Lanang Wiratma, meraih gelar profesor setelah melakukan penelitian terhadap lontar taru premana.
PROFESOR: Guru besar bidang ilmu kajian pendidikan kimia Undiksha, Prof. Dr. Drs. I Gusti Lanang Wiratma, meraih gelar profesor setelah melakukan penelitian terhadap lontar taru premana.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja berhasil meraih gelar profesor setelah melakukan penelitan terhadap lontar Taru Premana.

Lewat penelitian berbasis etnografi itu, ia berhasil menemukan bahwa lontar tersebut bukan mitos belaka. Namun menjadi sebuah fakta.

Tak heran bila dosen tersebut ditetapkan sebagai seorang guru besar di Undiksha.

Pria tersebut adalah Prof. Dr. Drs. I Gusti Lanang Wiratma. Dia ditetapkan sebagai guru besar di bidang ilmu kajian pendidikan kimia pada Senin (15/1/2024) lalu.

Hasil penelitiannya dituangkan dalam sebuah tulisan ilmiah dengan judul “Kajian Etnokimia Tanaman Obat Berbasis Lontar Usada Taru Pramana (Eksplorasi Kearifan Lokal Masyarakat Bali untuk Pembalajaran Kimia)".

Tatkala ditemui belum lama ini, Lanang Wiratama menuturkan dirinya merupakan seorang dosen dari latar belakang ilmu kimia.

Saat menempuh pendidikan magister ia menempuh pendidikan kimia murni. Sementara pada pendidikan doktor, ia menempuh kajian budaya.

Terkait penelitiannya, ia mengaku berinisiatif mengeksplorasi kearifan lokal yang bisa dibawa ke dalam hal pembelajaran.

Dalam proses penelitian ia mengaku tertarik dengan lontar taru premana. Maklum saja, dalam lontar tersebut terdapat banyak pengetahuan yang terkait dengan tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan.

“Sementara kita menganggap hal itu seolah-olah mistis. Padahal setelah dilakukan penelitian, itu relevan dengan kondisi saat ini,” kata Lanang.

Berbekal latar belakang ilmu kimia murni, ia mencari senyawa kimia tanaman-tanaman yang disebutkan dalam lontar taru premana.

Salah satunya adalah daun kentut (Paedera foetida L.). Dalam lontar, daun kentut disebut dengan daun kesimbukan.

Hal itu juga tercantum lontar usadha taru pramana. Dalam lontar disebutkan bahwa: tityang mewasta kesimbukan, daging tityang tis, daun tityang tis, akah tityang dumalada, tityang dados anggen tamban rare sasab. Ambil daun tityang anggen pupuk medaging umah kalisasuan di kemulan.

“Dari sana saya coba mencari. Apa sebenarnya yang ada dalam daun-daunan itu,” kata Lanang.

Ia mengaku menghabiskan waktu selama sembilan bulan untuk mempelajari daun tersebut.

Dalam penelitian, ia mengaku menemukan sejumlah senyawa yang dianggap relevan untuk menyembuhkan penyakit.

Senyawa itu diantaranya saponin, flavonoid, tannin, alkaloid, steroid, asperuloside, eugenol, scandoside, gamma-stiosterol monohidrat, arbutin, asam oleanik, dan kalsium oksalat.

“Senyawa itu ternyata bisa untuk anti bakteri, dan banyak hal lainnya,” kata Lanang.

Menurut lontar, daun tersebu dapat digunakan untuk mengobati penyakit sasab yang dalam bahasa Bali berarti virus.

Selain itu beberapa pengusada juga menggunakan daun itu sebagai pupuk atau penyejuk pada kepala bayi.

Praktisi menyatakan bahwa daun kentut harus diramu dan dilakukan pasupati. Sementara hasil penelitian menunjukkan, tanpa ritus pun daun itu masih memiliki khasiat.

“Penelitian kami menyatakan, cukup diaplikasikan saja itu sudah memberikan efek. Kalau ada mantra-mantra, itu sugesti saja sebenarnya,” ungkap Lanang.

Menurutnya senyawa dalam daun katuk efektif digunakan sebagai anti virus dan anti radang. Mengingat ada senyawa flavonoid di sana.

“Tanpa ritus dan mantra pun sebenarnya sudah efektif. Karena memang daun itu mengandung senyawa aktif yang bisa menyembuhkan,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, Lanang menghimbau para pengusada untuk menggali pengetahuan agar lebih munju ilmiah.

“Agar tidak ada kesan mitos. Padahal secara faktual bahwa itu memang punya fungsi mengobati,” demikian Lanang. (*)

Editor : Eka Prasetya
#dosen #taru premana #profesor #undiksha #universitas pendidikan ganesha