SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Infrastruktur pendidikan di Buleleng terus jadi sorotan. Sebab fasilitas yang ada tidak memadai bagi siswa untuk belajar.
Belum lama ini kondisi ruang kelas di sejumlah SD negeri di Kecamatan Gerokgak, Buleleng jadi sorotan karena tidak bisa digunakan belajar mengajar.
Kini ada SD negeri di Kabupaten Buleleng yang tidak mampu membeli kursi karena tidak punya dana yang cukup.
Kondisi itu terjadi di SDN 2 Pelapuan, Kecamatan Busungbiu. Sejumlah ruang kelas dalam kondisi lapuk dan rusak.
Selain itu bangku tempat duduk dan meja siswa dalam keadaan rusak berat. Akibatnya, sekolah terpaksa menggunakan kursi plastik untuk kegiatan belajar siswa.
Baca Juga: Duh, SDN 5 Pemuteran Rusak Parah. Dewan Desak Perbaikan Infrastruktur
Fakta itu diungkap Sekretaris Dewan Pendidikan Buleleng, I Made Bagus Andi Purnomo. Dia sempat melakukan kunjungan ke sekolah tersebut beberapa waktu lalu.
Menurutnya siswa yang belajar di kelas 2 SD kini harus mengikuti kegiatan belajar dari kursi berbahan plastik.
Kondisi itu dinilai tidak ideal. Karena kursi plastik cepat rusak. Selain itu sangat rentan bila digunakan siswa pada kelas awal.
"Saya tanya mengapa pakai kursi plastik? Staf sekolah menjawab karena kursi sekolah sebagian besar rusak tidak bisa dipakai," kata Purnomo, Minggu (9/6/2024).
Baca Juga: Lapor Pak! Nyaris Roboh, Dua Ruang Kelas SDN Celukan Bawang Tak Bisa Digunakan
Setelah mencari akar masalah, ternyata masalah bermuara pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang pas-pasan.
Siswa yang belajar di sekolah tersebut hanya 50-an siswa. Dampaknya dana BOS yang diterima juga minim. Sehingga sekolah tidak mampu membeli kursi belajar yang memadai.
“Jadi satu kelas itu rata-rata di bawah 10 orang anak. Sehingga berimbas pada minimnya dana BOS," tambah dia.
Lebih lanjut Purnomo mengatakan, kondisi tersebut diperparah dengan beberapa bagian gedung yang rusak, tidak bisa digunakan.
Pihak sekolah sudah berupaya mengusulkan perbaikan lewat aplikasi Dapodik. Hanya saja belum mendapat tindak lanjut, karena kategori kerusakan merupakan rusak sedang.
"Memang masalah itu adalah kalau gedungnya rusak berat, baru bisa diusulkan untuk rehab. Artinya kadang aturan itu aneh. Masak nunggu bangunan roboh dulu baru bisa dibantu diperbaiki," kata dia.
Pihaknya pun mengaku telah berkoordinasi dengan Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng dan mendapatkan petunjuk bahwa pihak sekolah segera diminta berkoordinasi ke dinas.
"Kami disini berusaha mendengarkan aspirasi sekolah dan menyampaikan permasalahan yang ada. Masalah sarpras masih jadi masalah klasik di Buleleng. Pemerintah daerah saya harapkan fokus pada hal dasar ini dulu (sarpras)," demikian Bagus Purnomo. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya