Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Duduk Perkara SD Negeri di Buleleng Tidak Mampu Beli Bangku untuk Siswa

Eka Prasetya • Senin, 10 Juni 2024 | 23:01 WIB
RUSAK PARAH: Kondisi meja dan bangku di SDN 2 Pelapuan yang rusak parah.
RUSAK PARAH: Kondisi meja dan bangku di SDN 2 Pelapuan yang rusak parah.

SINGARAJA,  RadarBuleleng.id - Sebuah sekolah negeri di Buleleng jadi sorotan. Penyebabnya, sekolah tersebut tidak mampu membeli bangku kayu untuk proses pembelajaran siswa.

Pihak sekolah beralasan tidak punya anggaran yang cukup untuk melakukan perawatan sarana dan prasarana. Termasuk memperbarui bangku siswa.

Kondisi itu terjadi di SDN 2 Pelapuan, Kecamatan Busungbiu. Sejumlah ruang kelas dalam kondisi lapuk dan rusak.

Hal yang paling menyedihkan, di kelas 2 SD, siswa harus belajar menggunakan kursi plastik.

Hanya ada satu kursi kayu di kelas tersebut. Itu pun kondisinya sudah lapuk dan membahayakan.

Baca Juga: Duh, SDN 5 Pemuteran Rusak Parah. Dewan Desak Perbaikan Infrastruktur

Sekolah tidak mampu membeli kursi kayu yang harganya Rp 300 ribuan per unit. Dampaknya sekolah membeli kursi plastik yang lebih murah dengan harga RP 35 ribuan per unit. Kendati kondisinya lebih berbahaya.

Hal itu diungkap Sekretaris Dewan Pendidikan Buleleng, I Made Bagus Andi Purnomo. Purnomo sempat melakukan kunjungan ke sekolah tersebut.

Menurut Purnomo, kondisi belajar siswa dengan menggunakan kursi plastik sangat tidak ideal. Sebab kursi plastik cepat rusak, sehingga rentan bila digunakan siswa.

"Saya tanya mengapa pakai kursi plastik? Staf sekolah menjawab karena kursi sekolah sebagian besar rusak tidak bisa dipakai," kata Purnomo, Minggu (9/6/2024).

Baca Juga: Amor Ring Acintya, Remaja dari Desa Celukanbawang Tewas di TKP setelah Tabrak Pohon Perindang

Purnomo menyebut akar masalahnya adalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang pas-pasan.

Siswa yang belajar di sekolah tersebut hanya 50-an siswa. Dampaknya dana BOS yang diterima juga minim. Sehingga sekolah tidak mampu membeli kursi belajar yang memadai.

“Jadi satu kelas itu rata-rata di bawah 10 orang anak. Sehingga berimbas pada minimnya dana BOS," tambah dia.

Masalahnya dana BOS bukan hanya digunakan untuk operasional saja. Seperti membayar listrik dan  air.

Sekolah juga harus menggunakan dana BOS untuk membayar gaji guru honor. Selain itu ada sejumlah keperluan pembelajaran lain yang harus dibiayai lewat dana BOS.

Purnomo mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng. Ia berharap sekolah segera berkoordinasi dengan dinas agar dapat bantuan bangku. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#busungbiu #Pelapuan #kursi #bos #pendidikan #bangku #sekolah #buleleng #sd