SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Seorang guru sekolah dasar (SD) di Buleleng, Bali, melakukan prank kepada siswanya.
Guru sekolah itu nge-prank siswanya dengan menyebutkan bahwa ada beberapa orang yang tidak lulus.
Akibatnya, siswa di sekolah tersebut pun menangis sesenggukan. Peristiwa itu pun mendapat kecaman, karena prank tersebut dianggap tidak lucu.
Bukannya lucu, prank tersebut justru dikhawatirkan berdampak serius pada mental dan psikologis siswa.
Baca Juga: Pergeseran Nilai Menyangkut Kehidupan Berbagai Aspek dan Pendidikan di Negeri Ini
Peristiwa itu terjadi di SDN 3 Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng. Aksi prank itu juga diunggah sang guru di media sosial.
Belakangan video itu sempat dihapus, namun keburu menyebar secara luas.
Dalam video disebutkan ada 5 orang siswa dari 26 orang siswa yang dinyatakan tidak lulus.
“Di saat 5 orang dinyatakan tidak lulus jeg hati hancur berkeping-keping” demikian tulisan di video tersebut.
Baca Juga: Dewan Pendidikan Berharap Pemkab Buleleng Ikut Kembangkan Lembaga Pendidikan Hindu
Prank itu semakin meyakinkan karena di dalam video juga memunculkan pengumuman kelulusan dengan kop sekolah.
Hanya saja tidak ada tanda tangan guru wali kelas maupun kepala sekolah dalam pengumuman itu.
Saat disebutkan ada 5 orang temannya yang tidak lulus, para siswa pun menangis dan saling berpelukan.
Video itu akhirnya sampai pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng. Disdikpora pun langsung memberikan teguran kepada guru yang membuat konten tersebut.
Sekretaris Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, pihaknya sudah menugaskan pengawas sekolah menindaklanjuti permasalahan tersebut.
“Sekolah sudah diberikan teguran dan kepala sekolah sudah meminta maaf dan menyampaikan klarifikasi,” ujar Surya Bharata.
Menurutnya hal-hal tersebut sangat kontraproduktif dengan proses pendidikan di sekolah.
Ia berharap guru pun bisa bijak dalam memanfaatkan gadget dan media sosial. Jangan sampai guru pada akhirnya membuat konten yang tidak mendidik.
“Terbawa medsos, akhirnya membuat konten seperti itu biar viral. Kami harap tenaga pendidik bijak menggunakan medsos. Jangan sampai membuat konten yang justru mempengaruhi dampak psikologi peserta didik dan rekan sejawat,” demikian Surya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya