SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sebanyak dua unit sekolah di Kabupaten Buleleng, Bali, tidak kebagian siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026 ini. Kedua sekolah itu pun tidak melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng berjanji akan melakukan evaluasi terkait kondisi kedua sekolah itu.
Adapun kedua sekolah itu yang tidak kebagian siswa adalah SDN 1 Pengastulan di Kecamatan Seririt, dan SDN 4 Sambirenteng di Kecamatan Tejakula.
SDN 1 Pengastulan awalnya menerima seorang pendaftar. Namun orang tua siswa memilih tidak mendaftar ulang, melainkan mendaftarkan anaknya ke SDN 3 Pengastulan.
Sementara di SDN 4 Sambirenteng, tidak ada seorang pun siswa yang mendaftar. Orang tua siswa memilih menyekolahkan anak mereka ke SDN 3 Sambirenteng, yang memang bersebelahan dengan sekolah tersebut.
Baca Juga: Ratusan Siswa Tercecer dari SPMB, DPRD Bali Desak Evaluasi Menyeluruh
Pantauan Radar Buleleng, pada Senin (21/7/2025) sekitar pukul 10.00 pagi, sejumlah orang tua siswa tampak menanti anak-anak mereka di SDN 3 Sambirenteng.
Sementara di SDN 4 Sambirenteng suasana terlihat lebih sepi. Para guru dan siswa tampak suntuk mengikuti aktivitas belajar mengajar di dalam kelas.
Plt. Kepala SDN 4 Sambirenteng, Ni Made Suasmini mengakui jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah itu semakin turun dari tahun ke tahun.
Pada tahun ajaran 2024/2025 lalu, mereka menerima 4 orang siswa. Belakangan seorang siswa memilih pindah sekolah. Sehingga kini tersisa 3 orang siswa yang melanjutkan pendidikan di jenjang kelas 2 SD.
Sementara di kelas lainnya, jumlah siswa juga hanya hitungan jari. Misalnya di kelas 3 SD yang hanya memiliki 3 orang siswa, kelas 4 SD yang memiliki 9 orang siswa, kelas 5 SD yang memiliki 8 orang siswa, dan kelas 6 SD yang memiliki 9 orang siswa.
Akibat minimnya jumlah siswa, dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang mereka terima juga sedikit. Hanya sekitar Rp 32 juta setahun.
“Kami sudah berupaya promosi. Sosialisasi lewat media sosial, ke orang tua siswa, ke pihak desa, termasuk ke lembaga TK dan PAUD juga,” kata Suasmini.
Tak hanya itu, pihak sekolah juga berupaya berinovasi meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya memberikan kursus Bahasa Inggris gratis bagi siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD.
“Kami juga ada kerjasama dengan yayasan. Tadi pagi, anak-anak mendapat bantuan alat tulis,” kata Suasmini.
Meski sudah melakukan upaya-upaya inovasi, namun toh sekolah tetap minim pelamar. Ia menduga sekolah minim pelamar karena kondisi sarana prasarana yang kurang memadai.
Atap plafon sekolah sudah mulai jebol. Ditambah lagi atap ruang perpustakaan ambruk gara-gara diguyur hujan lebat.
Anggota DPRD Buleleng, Dewa Komang Yudi Astara meminta agar pemerintah daerah mengambil langkah strategis terkait kondisi tersebut.
Yudi menganjurkan agar pemerintah mempertimbangkan mengalihkan status sekolah tersebut menjadi Pratama Widyalaya, atau lembaga pendidikan khusus keagamaan Hindu yang setara dengan jenjang SD.
“Ketimbang melakukan regrouping, menurut saya lebih baik jika ini dialihkan ke Widyalaya. Karena kita belum punya lembaga widyalaya yang dikelola pemerintah. Beda dengan madrasah, yang memang banyak madrasah negeri,” katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Disdikpora Buleleng, Dewa Made Sudiarta mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi sekolah-sekolah yang tidak mendapatkan siswa.
Apabila ada masalah kekurangan sarana prasarana, pihaknya berjanji akan melakukan pembenahan. “Termasuk mutu SDM, kalau ada yang kurang juga akan kami benahi. Karena tujuannya kan seluruh satuan pendidikan memberikan layanan terbaik bagi siswa,” kata Sudiarta. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya