Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sastra Jawa Kuno Kian Sepi Peminat, Digitalisasi Diharapkan Jadi Angin Segar

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 11 November 2025 | 19:45 WIB
LESTARIKAN SASTRA: Kegiatan pembacaan sloka dalam bahasa Jawa Kuna. Prodi Bahasa Jawa Kuna kini minim peminat, padahal satu-satunya di Indonesia.
LESTARIKAN SASTRA: Kegiatan pembacaan sloka dalam bahasa Jawa Kuna. Prodi Bahasa Jawa Kuna kini minim peminat, padahal satu-satunya di Indonesia.

RadarBuleleng.id - Perkembangan digital tak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga membuka ruang baru bagi pelestarian khazanah budaya klasik. 

Salah satunya sastra Jawa Kuna, warisan adiluhung yang kini kian kehilangan peminat.

Kepala TVRI Stasiun Bali, Gede Mustito mengatakan, era digital seharusnya menjadi momentum bagi generasi muda untuk menghidupkan kembali tradisi sastra klasik ke ruang kontemporer. 

“TVRI memberi peran untuk menciptakan kreator muda. Ini peluang besar bagi mahasiswa Sastra Jawa Kuno yang memiliki dasar budaya kuat, tinggal diberi bekal jurnalistik,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional “Sastra Jnana Prasada”, di Auditorium Widyasabha Mandala Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Menurutnya, industri media saat ini menawarkan banyak kesempatan untuk membumikan kembali nilai-nilai Jawa Kuno, termasuk lewat televisi dan rumah produksi independen. 

“Salah satunya bisa menjadi jurnalis yang mampu memperluas jaringan dan memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara,” tambahnya.

Koordinator Program Studi Sastra Jawa Kuna Universitas Udayana, I Nyoman Suarka, menegaskan, sastra Jawa Kuna bukan sekadar warisan teks lama, melainkan kunci untuk memahami akar kebudayaan Bali dan Indonesia. 

Ia menyebut, berdirinya Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Udayana 67 tahun lalu tak lepas dari peran besar studi sastra Jawa Kuno.

“Para pendiri fakultas mewariskan amanat agar sastra menjadi kunci pembuka peti kebudayaan lama. Dalam konteks itu, sastra Jawa Kuno menjadi pintu menuju pemahaman mendalam tentang peradaban masa lampau,” ujarnya.

Ia menambahkan, Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana adalah satu-satunya di dunia, yang menjadikannya sangat langka sekaligus berharga. 

Karena itu, kata Suarka, pihaknya kini tengah gencar mendorong alih wahana sastra Jawa Kuno ke bentuk-bentuk modern agar lebih mudah diterima generasi muda.

Hal senada disampaikan Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya Unud, Dr. Ni Ketut Puji Astuti Laksmi. 

Ia menyebut, meskipun secara formal hanya ada satu program studi di dunia, penekun dan pecinta sastra Jawa Kuno tersebar di berbagai ruang, terutama di Bali.

“Kita bisa melihat bagaimana bahasa Jawa Kuno memberi pengaruh besar terhadap kebudayaan Bali. Dalam studi epigrafi, bahkan bahasa Bali Kuno akhirnya digantikan oleh bahasa Jawa Kuno. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruhnya terhadap sejarah kebudayaan kita,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#jawa kuno #televisi #sastra jawa kuna #media #digital #tvri #sastra #fakultas sastra #budaya #universitas udayana #jawa