SINGARAJA, RadarBuleleng.id – DPRD Buleleng meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng segera turun tangan menangani kasus anak terancam putus sekolah.
Permintaan tersebut muncul setelah Komisi IV DPRD Buleleng menemukan adanya siswa yang sudah tidak bersekolah sejak 2024.
Temuan itu terungkap saat anggota DPRD Buleleng melakukan kunjungan ke SDN 2 Banyuning, Rabu (25/2/2026).
Anggota Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya mengaku prihatin karena kasus anak tidak sekolah masih ditemukan di wilayah perkotaan.
“Kami cek kasus putus sekolah di perkotaan ini kok masih ada. Kami khawatir justru ini akhirnya melebar,” ujarnya.
Menurut Dhukajaya, pihaknya tengah menelusuri faktor penyebab anak tersebut berhenti sekolah. Ia menilai persoalan putus sekolah tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.
Ia menyebut ada berbagai faktor yang membuat anak enggan kembali ke sekolah. Entah itu faktor internal sang anak, faktor keluarga, faktor lingkungan, maupun faktor di sekolahnya.
“Saya rasa dalam konteks anak ini faktor pemicunya banyak dan sangat kompleks. Ada faktor lingkungan sekolah, guru, kondisi anaknya, keluarganya juga,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan kasus seperti ini membutuhkan pendekatan yang sensitif dan tidak bisa instan. Sekolah diminta aktif melakukan pendekatan persuasif agar anak bisa kembali termotivasi untuk belajar.
“Kami minta sekolah melakukan pendekatan supaya bisa kembali sekolah. Untuk menyelesaikan ini harus paham dulu faktor pemicunya apa, supaya langkah pemerintah tepat,” tegasnya.
Dhukajaya juga meminta pemerintah mendatangkan psikolog anak untuk memberikan pendampingan secara intens. Sehingga anak bersedia kembali ke sekolah.
“Kami harap psikolog juga masuk. Mungkin dengan psikolog anak bisa lebih nyaman dan bisa bercerita. Pendekatannya memang sensitif dan penuh perhatian,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SDN 2 Banyuning, Desak Putu Sri Sadwity menjelaskan, pihak sekolah telah berupaya melakukan berbagai langkah sejak anak tersebut teridentifikasi tidak masuk sekolah.
Menurutnya anak tersebut memilih tidak sekolah lagi sejak Oktober 2024. Saat itu sang anak sudah duduk di bangku kelas 2.
Sri menyebut, siswa tersebut mulai tidak bersekolah saat duduk di kelas dua semester satu. Pada tiga bulan pertama masih mengikuti pelajaran, namun menjelang penilaian sumatif akhir, anak tersebut tidak lagi masuk sekolah.
“Jadi sebulan tidak masuk sekolah kami langsung melakukan kunjungan ke rumah untuk mencari tahu penyebabnya, tapi belum membuahkan hasil,” ungkapnya.
Pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Disdikpora Buleleng, mengingat Disdikpora memiliki tenaga psikolog untuk mengidentifikasi masalah sang anak.
“Kendalanya memang anak belum mau keluar rumah saat ada orang yang belum dikenal. Psikolog pun tentu belum bisa mengetahui kondisi hanya dari satu kali pertemuan,” jelasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya