Rektor Institut Mpu Kuturan Tak Khawatir Wacana Penghapusan Prodi: Ilmu Humaniora Tetap Dibutuhkan

Eka Prasetya • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 04:39 WIB
BICARA PERKEMBANGAN KAMPUS: Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. I Gede Suwindia. (Institut Mpu Kuturan)
BICARA PERKEMBANGAN KAMPUS: Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. I Gede Suwindia. (Institut Mpu Kuturan)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Wacana penghapusan sejumlah program studi (prodi) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdikti Saintek) tak membuat Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Buleleng, khawatir. 

Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. I Gede Suwindia, menilai prodi berbasis humaniora, sosial, budaya, dan keagamaan tetap akan dibutuhkan di setiap zaman.

Menurut Suwindia, pemerintah dipastikan tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan terkait penutupan program studi di perguruan tinggi.

“Kami tidak khawatir dengan penghapusan prodi. Karena pemerintah tidak melakukan sesuatu yang gegabah. Saya sampai saat ini berkeyakinan penghapusan prodi tidak menyasar prodi yang kita miliki,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program studi yang dimiliki IAHN Mpu Kuturan sebagian besar bergerak di bidang humaniora, agama, sosial, dan budaya yang justru memiliki peran penting dalam membangun peradaban masyarakat.

Menurutnya, kehidupan tidak hanya bisa diukur dengan pendekatan ekonomi maupun hitung-hitungan pasar kerja semata.

“Karena prodi humaniora, agama, sosial, dia akan tetap harus ada pada setiap zamannya. Karena hidup tidak bisa selalu hitung-hitungan. Makanya antropologi agama, antropologi budaya, sosiologi, itu penting,” tegasnya.

Suwindia juga meminta civitas akademika maupun masyarakat tidak panik menanggapi isu penghapusan prodi. 

Menurutnya, kebijakan tersebut masih berupa wacana dan jika benar diterapkan pun akan melalui tahapan panjang sebelum dieksekusi.

“Kami tidak akan khawatir, karena sampai penghapusan prodi dieksekusi, itu ada proses yang panjang. Saya yakinkan tidak perlu panik, karena peradaban terbangun itu berkat ilmu humaniora,” katanya.

Ia menambahkan, Bali sebagai daerah yang memiliki kekuatan budaya dan spiritual sangat membutuhkan keberadaan ilmu-ilmu sosial, budaya, dan agama untuk menjaga identitas masyarakatnya.

“Masyarakat Bali itu kuat sekali peradaban spiritualnya,” imbuhnya.

Diketahui, Institut Mpu Kuturan saat ini memiliki berbagai program studi berbasis keagamaan, budaya, pendidikan, hingga sosial humaniora. 

Di antaranya Penerangan Agama Hindu, Pariwisata Budaya dan Keagamaan, Ilmu Komunikasi Hindu, Manajemen Ekonomi, Teologi Hindu, Filsafat Hindu, Hukum Agama Hindu, Hukum Adat, hingga Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Selain itu terdapat pula program magister dan doktoral seperti Magister Pendidikan Agama Hindu, Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, serta Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan.

Sebelumnya, Kemdikti Saintek mewacanakan penutupan sejumlah prodi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi di masa depan. 

Sekretaris Jenderal Kemdikti Saintek, Badri Munir Sukoco menyebut langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan bonus demografi Indonesia.

Salah satu prodi yang disebut mengalami over supply lulusan adalah bidang kependidikan. 

Dalam data Kemdikti Saintek, prodi keguruan disebut meluluskan sekitar 490 ribu mahasiswa per tahun, sementara kebutuhan tenaga guru hanya sekitar 20 ribu orang. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
prodi agama pendidikan Institut Mpu Kuturan buleleng