RadarBuleleng.id – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi tantangan tersendiri bagi SMPN 5 Pupuan, yang berada di Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.
Sekolah yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Tabanan dan Buleleng itu kembali menghadapi persoalan klasik, yakni minimnya jumlah pendaftar siswa baru.
Hingga awal pelaksanaan SPMB, jumlah calon siswa yang mendaftar masih tergolong rendah. Kondisi tersebut sebenarnya bukan hal baru.
Pada tahun ajaran 2025/2026 lalu, SMPN 5 Pupuan hanya menerima 14 orang siswa baru. Tahun ini, sekolah hanya menargetkan memperoleh 20 orang siswa.
Kepala SMPN 5 Pupuan, I Putu Suarta, menjelaskan jumlah peserta didik baru sangat bergantung pada lulusan tiga sekolah dasar penyangga di Desa Munduk Temu, yakni SDN 1 Munduk Temu, SDN 2 Munduk Temu, dan SDN 3 Munduk Temu.
Idealnya, sekolah menargetkan dua rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas total 64 siswa. Namun, jumlah lulusan dari tiga SD tersebut tahun ini hanya sekitar 32 orang sehingga target tersebut sulit tercapai.
“Karena jumlah lulusan SD hanya sekitar 32 siswa, maka realistisnya kami menargetkan satu rombel saja,” ujar Suarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut Suarta, persoalan minimnya siswa bukan semata karena jumlah lulusan yang sedikit.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian lulusan SD di Desa Munduk Temu memilih melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Pupuan.
Bahkan tidak sedikit yang memilih bersekolah di SMPN 5 Busungbiu, yang berada di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Beragam alasan melatarbelakangi pilihan tersebut. Salah satunya karena SMPN 5 Pupuan belum memiliki lapangan sepak bola yang dianggap menjadi daya tarik bagi siswa.
Padahal, menurutnya, sekolah telah memiliki berbagai fasilitas penunjang pembelajaran.
Mulai dari lapangan basket dan voli, laboratorium, tenaga pengajar yang memadai, hingga fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan siswa.
Akses menuju sekolah juga relatif mudah karena kondisi jalan sudah baik dan jaraknya dekat dengan lingkungan tempat tinggal siswa.
“Setiap tahun kami tetap menghadapi kekurangan siswa baru saat penerimaan murid dibuka,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah bersama tokoh masyarakat, desa adat, komite sekolah, dan unsur terkait lainnya telah membangun kesepakatan bersama guna mendorong lulusan SD setempat melanjutkan pendidikan di SMPN 5 Pupuan.
Kesepakatan itu bahkan telah ditindaklanjuti dengan pembuatan surat pernyataan yang difasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan dan ditandatangani berbagai pihak terkait.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan sekolah di wilayah pedesaan sekaligus mencegah terus berkurangnya jumlah peserta didik setiap tahun.
Kepala Dinas Pendidikan Tabanan, I Gusti Putu Ngurah Darma Utama mengakui SMPN 5 Pupuan berpotensi mengalami kekurangan siswa pada SPMB tahun ajaran 2026/2027.
Selain karena jumlah lulusan SD yang terbatas, persaingan dengan sekolah lain di sekitar wilayah perbatasan turut menjadi tantangan tersendiri.
“Memang ada potensi kekurangan siswa karena jumlah lulusan dari sekolah pendukung juga sedikit,” ujarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya