SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Sebanyak 14 perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali resmi bersatu dalam sebuah konsorsium pendidikan.
Langkah tersebut diharapkan menjadi kekuatan baru untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan di Pulau Dewata melalui kolaborasi lintas kampus, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pembentukan konsorsium tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Buleleng, pada Senin (15/6/2026).
Kegiatan itu disaksikan langsung Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek), Prof. Fauzan, serta Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Dikti Saintek, Fauzan Adziman.
Konsorsium ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan di Bali.
Di antaranya Undiksha, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, IKIP Saraswati Tabanan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Bali, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Universitas Dwijendra, Universitas Panji Sakti Singaraja, Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali, Universitas Triatma Mulya, Universitas Dhyana Pura Bali, STKIP Agama Hindu Singaraja, dan STKIP Agama Hindu Amlapura.
Inisiatif pembentukan konsorsium ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang difasilitasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Maret lalu.
Melalui wadah tersebut, kampus-kampus di Bali didorong untuk tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.
Wamen Dikti Saintek, Prof. Fauzan menegaskan perguruan tinggi memiliki sumber daya, keahlian, dan hasil riset yang sangat besar.
Namun, seluruh potensi tersebut akan lebih bermanfaat apabila dikolaborasikan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
"Perguruan tinggi memiliki banyak ahli dan potensi besar. Melalui kolaborasi, seluruh potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Inilah esensi Kampus Berdampak," ujarnya.
Menurut Fauzan, konsorsium akan menjadi ruang bersama bagi perguruan tinggi untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.
Dengan begitu, berbagai hasil penelitian tidak hanya berhenti dalam bentuk laporan atau prototipe, tetapi mampu diterapkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.
Ia menambahkan, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keseriusan dalam membangun sektor pendidikan.
Karena itu, perguruan tinggi harus hadir sebagai motor penggerak perubahan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
"Kemajuan sebuah negara bergantung pada seberapa serius negara tersebut berinvestasi pada pendidikan. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah," tegasnya.
Sementara itu, Rektor Undiksha, Prof. I Wayan Lasmawan menilai pembentukan konsorsium menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antar perguruan tinggi di Bali.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar kampus mampu menghadirkan solusi yang lebih efektif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Lasmawan menjelaskan, keberadaan konsorsium sejalan dengan semangat Program Kampus Berdampak yang saat ini digalakkan pemerintah.
Perguruan tinggi tidak lagi hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Melalui kerja sama yang lebih erat antara kampus, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya, berbagai tantangan pendidikan di Bali diharapkan dapat ditangani secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.
"Dalam filosofi orang tua, tanpa kolaborasi dan sinergi sesungguhnya kita tidak pintar," kata Lasmawan.
Dengan terbentuknya konsorsium ini, 14 perguruan tinggi di Bali berkomitmen membangun ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif, inovatif, dan berdampak.
Harapannya, keberadaan kampus tidak hanya melahirkan lulusan berkualitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret bagi berbagai persoalan pendidikan dan pembangunan di Bali. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya