Ciptakan Ruang Inklusif, SLBN 1 Buleleng Tampilkan Karya Sablon dan Kelas Bahasa Isyarat di Bulfest

Eka Prasetya • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 07:38 WIB
INKLUSIF: Suasana stand SLBN 1 Buleleng pada ajang Buleleng Festival 2026. (Pemkab Buleleng)
INKLUSIF: Suasana stand SLBN 1 Buleleng pada ajang Buleleng Festival 2026. (Pemkab Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng dalam menghadirkan ruang publik yang inklusif diwujudkan secara nyata pada helatan Buleleng Festival (Bulfest) 2026. 

Melalui zona Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Sabtu (22/8/2026), anak-anak berkebutuhan khusus diberikan panggung setara untuk memamerkan karya sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah stan SLB Negeri 1 Buleleng. Sekolah ini memboyong berbagai produk hasil keterampilan siswa, mulai dari busana hasil olah jahit hingga produk sablon yang menjadi komoditas unggulan mereka.

Guru SLB Negeri 1 Buleleng, Wayan Susiani, menjelaskan bahwa pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus berfokus pada penguatan keterampilan hidup (life skill) demi mencetak kemandirian siswa.

“Di SLB yang kami utamakan adalah kemandirian anak. Banyak life skill yang kami ajarkan, seperti sablon dan menjahit. Yang menjadi unggulan kami sekarang adalah sablon,” ujar Wayan Susiani.

Pengembangan materi sablon di SLBN 1 Buleleng bahkan telah ditunjang dengan fasilitas memadai. 

Sekolah ini juga rutin menjadi rujukan pelatihan bagi guru-guru SLB lain di Bali dalam mengasah keterampilan memproduksi cetak saring tersebut.

"Anak-anak dilatih untuk sablon dan kami juga sudah memiliki alatnya. Bahkan guru-guru dari SLB lain juga berlatih di sekolah kami, sehingga kami menjadi semacam lokasi rujukan,” jelasnya.

Tak sekadar memajang produk kriya, para siswa tunarungu yang bertugas di stan diajak aktif melayani pengunjung. 

Melalui bantuan aplikasi interaktif yang disediakan di stan, masyarakat umum diajak belajar berkomunikasi mengolah bahasa isyarat secara langsung.

“Tujuan kami supaya anak-anak bisa berbaur dengan masyarakat umum. Mereka bisa berkomunikasi, meskipun melalui bahasa isyarat, ekspresi, maupun membaca gerak bibir,” ungkap Susiani.

Ia menambahkan, keterlibatan di ruang publik seperti BDE secara perlahan mengikis rasa canggung para siswa hingga membentuk rasa percaya diri yang tinggi.

"Awalnya ada yang malu, tetapi lama-lama mereka enjoy. Karena setiap hari kami sudah melatih bagaimana mereka berinteraksi,” tambahnya.

Susiani berharap dunia kerja dan masyarakat luas dapat makin terbuka menerima penyandang disabilitas yang telah mengantongi keterampilan teruji.

“Jangan underestimate anak-anak berkebutuhan khusus. Di balik kekurangan mereka, banyak sekali kelebihan yang mereka miliki. Kalau kita mau melatih dan memberikan ruang, mereka bisa menunjukkan kemampuan,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Buleleng Digital Expo Buleleng Festival 2026 Inklusivitas Buleleng berita buleleng SLB Negeri 1 Buleleng