Setiap Rabu, siswa SMPN 9 Denpasar menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung. Kebiasaan itu tak hanya melatih mereka mengelola keuangan, tapi juga menjadi cara belajar menahan keinginan demi mewujudkan cita-cita.
PAGI itu, Rabu (16/9/2026), siswa di SMPN 9 Denpasar baru saja menyelesaikan Puja Tri Sandya dan menyanyikan Indonesia Raya. Mereka kemudian beranjak ke deretan meja yang telah disiapkan di sisi lapangan.
Sebagian siswa membawa buku tabungan Bank BPD Bali. Ada juga yang membawa buku tabungan rekening Bank Mandiri. Di dalamnya terselip uang tunai dengan jumlah beragam.
Tiap Rabu, siswa Spensya – sebutan untuk SMPN 9 Denpasar – punya kebiasaan menabung. Pihak sekolah memberi nama program itu SI RAMEN yang merupakan akronoim dari Siswa Rabu Menabung.
Salah satu siswa yang pagi itu mengantre di pinggir lapangan adalah Kadek Mohana Asha Adinatha, siswa kelas IX. Sejak duduk di kelas VIII ia tak pernah melewatkan Rabu Menabung.
Uang yang ia tabung tidak selalu sama. Kadang Rp 20 ribu, lain waktu Rp 50 ribu. Bisa juga lebih banyak. Semuanya bergantung pada uang saku yang berhasil ia sisihkan.
”Kadang bisa sampai lima puluh ribu lebih,” kata siswa yang akrab disapa Asha itu.
Dalam sepekan, bungsu dari dua bersaudara tersebut mendapat uang saku Rp 100 ribu dari orang tuanya. Tak semua dihabiskan. Ia justru mengaku jarang belanja di kantin sekolah, karena terbiasa membawa bekal dari rumah.
Per hari ia berusaha menyisihkan uang minimal Rp 10 ribu. Uang yang tersisa dikumpulkan, kemudian ia tabung tiap hari Rabu.
Siswa yang mukim di Banjar Pekandelan Sanur itu juga mengaku pernah tergoda membeli barang atau makanan yang ia inginkan. Pengeluaran lebih banyak, berarti uang yang ditabung akan makin sedikit.
”Kadang pernah seminggu itu lagi boros banget. Uangnya sisa Rp 20 ribu. Akhirnya saya tabung semua,” ceritanya.
Pernah pula ia mendapatkan rezeki uang pembinaan ketika mengikuti sejumlah lomba. Uang itu tidak sepenuhnya dihabiskan. Sebagian disimpan, sebagian lainnya digunakan untuk menyenangkan diri sendiri.
”Saya ambil itu mungkin setengah dari uang hasil lomba itu. Jadi kayak saya self-reward,” tuturnya seraya tersenyum.
Khusus soal uang yang ditabung di sekolah, Asha tak pernah menyentuhnya. Alasannya, uang tersebut akan ia gunakan membeli peralatan rias. Terlebih Asha punya cita-cita menjadi make up artist profesional.
Ambisi itu membuat Asha belajar bersabar. Ia tahu uang di rekeningnya bisa ditarik kapan saja. Tetapi ia memilih menahan keinginannya. ”Sampai saya benar-benar mencapai target saya,” katanya.
Kepala SMPN 9 Denpasar, Andromeda Ken Prabuhening mengatakan, program tersebut berawal dari implementasi program KEJAR atau “Satu Rekning, Satu Pelajar” yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sekolah kemudian mengemasnya menjadi kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
”Sejak awal memang ada surat edaran ataupun program yang dibuat oleh OJK terkait dengan satu rekening, satu pelajar. Sehingga kami membawa program itu ke sekolah. Kebetulan saat itu diharuskan yang memiliki rekening, jadi kami coba buatkan program,” kata Andromeda.
Sekolah kemudian berusaha agar program tersebut tidak berhenti pada kepemilikan rekening. SI RAMEN dimasukkan dalam kurikulum sekolah sehingga kegiatan menabung memiliki pijakan dan dapat dilakukan secara konsisten oleh siswa.
Pelaksanaannya melibatkan guru, wali kelas, orang tua, dan lembaga perbankan. Bank BPD Bali dan Bank Mandiri menjadi mitra sekolah dalam menyediakan rekening bagi siswa. Kini seluruh siswa yang berjumlah 1.065 telah memiliki rekening bank.
Setoran dilakukan melalui mekanisme yang telah ditentukan sekolah. Uang yang terkumpul kemudian dicatat dan divalidasi. Sekolah juga menggunakan platform berbasis web untuk membantu pencatatan tabungan siswa.
Platform itu bukan layanan perbankan. Nomor rekening siswa juga tidak dicantumkan. ”Fungsi dari web itu hanya pencatatan saja,” jelas Andromeda.
Mekanisme tersebut juga diterapkan ketika siswa ingin menarik tabungannya. Penarikan dicatat dan diketahui wali kelas.
Bagi sekolah, kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan pengelolaan keuangan kepada siswa.
”Kami ingin siswa belajar mengelola keuangan. Ada literasi finansial, edukasi finansial. Supaya nanti ketika sudah dewasa, mereka tahu bagaimana cara mengelola uang agar mereka memiliki tabungan,” katanya.
Lebih lanjut Andromeda mengatakan, SI RAMEN juga tidak dibangun sebagai perlombaan siapa yang paling banyak menabung. Tidak ada keharusan seorang siswa harus menyetor dalam jumlah besar. Yang dibangun justru kebiasaan menyisihakn uang untuk ditabung.
Dari kebiasaan kecil itu, jumlah uang yang terkumpul di rekening siswa kini mencapai ratusan juta rupiah. Sekitar Rp200-an juta tersimpan melalui Bank BPD Bali dan sekitar Rp100-an juta melalui Bank Mandiri.
Kepala OJK Bali, Parjiman mengapresiasi capaian SMPN 9 Denpasar. Sekolah yang beralamat di Jalan Ngurah Rai, Denpasar Selatan itu, berhasil meraih penghargaan Satuan Pendidikan Implementasi KEJAR Terbaik subkategori Umum dalam rangkaian Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 tingkat nasional.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara OJK Bali, sekolah, Dinas Pendidikan Kota Denpasar, lembaga jasa keuangan dalam hal ini BPD Bali dan Bank Mandiri, serta guru, siswa dan wali murid.
Parjiman berharap kebiasaan menabung yang tumbuh sejak bangku sekolah dapat menular ke sekolah lainnya. ”Semoga dapat menginspirasi sekolah-sekolah lainnya di Bali dalam menerapkan kebiasaan baik menabung di bank sejak dini dari usia sekolah,” demikian Parjiman. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali