SINGARAJA-Merayakan ulang tahun tidak harus dengan kemeriahan, tetapi selalu menghadirkan makna. Ini yang dilakukan Banteng Muda Indonesia (BMI) Buleleng pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PDI Perjuangan (PDIP) ke-51 tahun.
Organisasi sayap partai ini merayakan HUT PDIP dengan cara yang sederhana tetapi mengandung makna yang mendalam.
Mereka merayakannya bersama dengan kader-kader lawas, tepat pada Rabu (10/1) di Banjar Dinas Pancoran, Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada.
Puluhan kader lawas yang dulunya menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan partai saat masa-sama sulit, mendapat bantuan berupa paket sembako. Bantuan sosial itu diberikan secara langsung ke rumah mereka.
Tak hanya mendapatkan sembako, mereka juga diajak merayakan HUT partai pimpinan Megawati itu secara sederhana, dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama.
Ketua DPC BMI Buleleng, Ketut Putra Sedana menjelaskan momen HUT PDIP menjadi tonggak agar para kader tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengingat dan bertemu dengan para pelaku sejarah.
Perayaan bersama kader-kader lawas ini agar spirit mereka dalam berjuang dalam masa-masa sulit di era Orde Baru hingga saat ini tetap menyala. Juga menjadi contoh keteguhan bagi kader-kader partai saat ini.
“Cerita mereka sangat menyentuh, pilihan mereka tetap meskipun mendapat intimidasi hingga kekerasan. Keteguhan mereka yang harus menjadi spirit bagi kita,” ujar pria yang akrab disapa dokter Caput itu.
Ia melanjutkan, masih banyak kader-kader lawas yang dulunya begitu teguh memperjuangkan partai berlambang banteng itu. Sehingga, sebagai sesama kader ia mengajak agar tetap peduli kepada para pejuang tersebut.
“Kita saat ini menikmati perjuangan orang tua kita dulu di partai. Jadi mari kita ingat dan peduli mereka sebagai pejuang partai dulu,” sambungnya.
Salah satu kader lawas, Wayan Wandres, menceritakan masa-masa dimana ia selalu mendapat intimidasi dari oknum aparat karena bergabung dengan PDIP. Ia mengaku “berwarna” merah sejak tahun 1971.
“Saya pernah dipukul oleh oknum aparat saat itu, dikumpulkan di balai banjar lalu dipukuli. Pesan saya semasih merah berkibar, lanjutkan perjuangan,” tegas pria berusia 80 tahun itu.
Made Gina, kader lawas lainnya menaruh harapan besar kepada partai maupun kader-kader yang sudah menjabat, untuk peduli terhadap kader tingkat bawah.
Mengingat kader lawas sebagai pelopor partai, dari dulu selalu mendapat intimidasi dan kekerasan. Mereka juga punya andil dalam membesarkan partai.
“Mungkin ini yang pertama kali dilakukan kader kita. Mudah-mudahan jadi acuan perhatian kader lainnya kepada kader tingkat bawah. Mereka juga punya andil dalam kemajuan partai,” jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak