SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, menang telak di Kabupaten Buleleng.
Pasangan capres-cawapres ini bahkan menang dengan perolehan suara dominan. Melebihi 100 ribu suara bila dibandingkan dengan pasangan calon lainnya.
Kemenangan pasangan capres-cawapres itu sekaligus meruntuhkan dominasi pasangan yang diusung PDI Perjuangan.
Selama ini, Buleleng merupakan kandang bagi capres-cawapres yang diusung PDI Perjuangan.
Sejak reformasi, dalam setiap hajatan Pemilihan Presiden (Pilpres), calon-calon yang diusung PDI Perjuangan pasti menang telak.
Hingga pukul 20.00 Rabu (14/2/2024) malam, rekapitulasi suara masih terus berlangsung.
Namun berdasarkan informasi yang dihimpun RadarBuleleng.id, pasangan Prabowo Gibran sudah menunjukkan kemenangan yang dominan.
Pasangan nomor urut 1, yakni Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mengantongi 19.186 suara.
Sementara pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengantongi 233.618 suara.
Selanjutnya pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, mengantongi 108.443 suara.
Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Prabowo Gibran di Buleleng, Gede Harja Astawa mengatakan, hasil penghitungan suara yang dilakukan internal TKD memang menunjukkan kemenangan Prabowo Gibran.
“Sekalipun datanya seperti itu, kami tidak boleh eforia. Karena ini masih berproses. Tapi memang validasi dan akurasi itu sudah tidak bisa diragukan,” kata Harja saat dihubungi, Rabu (14/2/2024).
Menurutnya kemenangan itu merupakan hasil kerja keras seluruh tim pemenangan, kader eksponen, relawan, maupun internal Partai Gerindra.
Selain itu salah satu program yang membuat elektabilitas Prabowo Gibran melesat di Buleleng adalah program pembangunan bandara baru di Bali Utara. “Ini yang jadi impian yang diharapkan masyarakat,” ujarnya.
Pria yang juga Ketua DPC Gerindra Buleleng itu juga mengklaim, keberhasilan meruntuhkan dominasi partai tertentu, merupakan hasil pendidikan politik yang dilakukan partai.
“Beliau selalu menginstruksikan kadernya selalu membantu masyarakat. Kalau tidak bisa bantu, minimal jangan buat orang susah. Itu yang membuat simpati masyarakat jatuh ke Gerindra, dan harus diakui ada juga Jokowi effect yang berdampak,” demikian Harja. (*)
Editor : Eka Prasetya