SINGARAJA-Diskusi politik yang digelas Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) tidak hanya menyajikan debat panas tentang pembangunan bandara di Buleleng. Tetapi juga mengungkap gagasan dari calon-calon lainnya.
Tiga Bakal Calon (bacalon) kepala daerah dari PDIP, yakni I Nyoman Sutjidra, Ketut Putra Sedana, dan Gede Supriatna menggaungkan gagasan yang mengutamakan permasalahan yang ada di masyarakat.
Tentu ini berbeda dengan bacalon lain yang cenderung membicarakan pembangunan bandara Bali utara.
Diskusi ini terlaksana pada Kamis (27/6) di Gedung Wanita Laksmi Graha Singaraja, dengan tema Siapa Yang paling Siap Jadi Pilot Denbukit?. Yang hadir sebagai narasumber, adalah tokoh-tokoh masyarakat yang kemudian berproses untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Buleleng 2024.
Gede Supriatna, yang juga Ketua DPRD Kabupaten Buleleng mengatakan bahwa pembangunan Buleleng perlu dengan kebersamaan, sesuai dengan karakteristik masyarakat Bali utara yang terbuka dan egaliter.
“Buleleng itu sing dadi peduegin, sing dadi peaengin, karena kita masyarakat yang sangat egaliter (Buleleng itu tidak boleh sok tahu, tidak boleh paling hebat),” ujarnya.
Menurutnya, sosok yang akan jadi pemimpin perlu memahami potensi Buleleng utamanya terkait sumber daya manusia, alam, dan budaya. Bahkan dari perhitungannya, di tahun 2030 akan ada masyarakat yang diperkirakan sebanyak 845.690 orang di Buleleng.
Dengan adanya jumlah tersebut, harus dipikirkan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar hidup masyarakat. Seperti optimalisasi lahan pertanian, penurunan LJOP, keringanan PBB, dan penyediaan sarpras nelayan.
Kemudian perumahan swadaya bagi masyarakat berpenghasilan rendah, beasiswa bagi kalangan miskin ekstrem dan meningkatkan harapan rata-rata sekolah, serta mengaktifkan kembali SKB yang kurang maksimal.
“Kalau bahasa Bulelengnya, masyarakat yang seger tur mebekel (masyarakat yang sehat dan beruang),” lanjutnya.
Sementara itu, Ketut Putra Sedana menjelaskan bila pembangunan dan penggalian potensi di Buleleng tidak akan berjalan dengan baik, bila pendidikan dan kesehatan masyarakat tidak terpenuhi.
Contohnya, mutu pendidikan yang perlu ditingkatkan, termasuk evaluasi zonasi yang membunuh sekolah swasta yang pernah menyumbang tokoh besar bagi Buleleng.
Ia memiliki gagasan untuk membangun sekolah yang berbasis pendidikan budi pekerti atau berbasis Hindu. Tujuannya, mengembalikan lagi Singaraja sebagai Kota Pendidikan, serta mengembalikan moral generasi muda yang kurang dalam adab.
Pria yang akrab disapa Dokter Caput itu mengaku, pihaknya yang sering turun bersama relawan Demam Berdarah Dengue (DBD), sering mendapatkan keluhan di masyarakat. Apa itu? Susahnya mendapatkan pelayanan penyelesaian atau antisipasi DBD.
Jawaban masyarakat ketika ditanya, lanjut Dokter Caput, pemerintah mengaku tidak memiliki anggaran. Hal ini tentu sangat memprihatinkan.
“Tadi pak Pj Bupati Buleleng kemasannya enak sekali. Tapi yang saya lihat di bawah, banyak hal yang membuat saya ingin berbuat sesuatu. Pemerintah seharusnya melayani, bukan dilayani,” ujarnya dengan senyum.
Di lain pihak, I Nyoman Sutjidra, bacalon PDIP lainnya mengedepankan pembangunan dengan tema Buleleng Era Baru.
Katanya, pembangunan Bali utara harus komprehensif dan fundamental. Mengedepankan aspek alam, manusia, dan kebudayaan, serta berdasarkan kearifan lokal.
Kata Wakil Bupati Buleleng periode 2012-2022 itu, yang menjadi skala prioritas pembangunan Buleleng adalah sandang pangan papan, pendidikan dan kesehatan, jaminan sosial dan tenaga kerja, perkembangan seni dan tradisi serta adat budaya, pengembangan pariwisata, dan infrastruktur pendukung.
Hal ini menjadi pertimbangannya, mengingat Sutjidra menjadi pendamping Putu Agus Suradnyana (Bupati Buleleng periode 2012-2022).
Sehingga menurutnya, ia paham dengan kondisi dan permasalahan masyarakat di Buleleng.
“Dengan menjaga keharmonisan dari alam beserta isinya, akan mewujudkan masyarakat Buleleng yang sejahtera dan bahagia sekala niskala, sesuai ajaran trisakti Bung Karno,” katanya.
Bahkan ia tak ragu meminta dukungan dan mohon doa restu agar bisa menjadi pemimpin Buleleng, agar dapat melanjutkan kembali pembangunan yang tertunda. ***
Editor : Donny Tabelak