Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Koster Klaim Tidak Menolak Bandara di Buleleng. Janji Perjuangkan Pembangunan Bandara Bila Terpilih Lagi

Francelino Junior • Rabu, 23 Oktober 2024 - 22:12 WIB

 

BICARA BANDARA: Calon Gubernur Bali, Wayan Koster saat melakukan kampanye di Seririt. Dia bicara soal pembangunan bandara di Buleleng.
BICARA BANDARA: Calon Gubernur Bali, Wayan Koster saat melakukan kampanye di Seririt. Dia bicara soal pembangunan bandara di Buleleng.

SERIRIT, RadarBuleleng.id - Isu pembangunan bandara di Buleleng kembali menjadi perbincangan dalam kontestasi politik.

Calon Gubernur Bali, Wayan Koster tiba-tiba membicarakan mengenai pembangunan bandara Bali utara. 

Hal tersebut cukup mengejutkan, karena dalam beberapa kampanye sebelumnya, pasangan Wayan Koster dan Nyoman Giri Prasta alias pasangan Koster-Giri, tidak pernah menyinggung isu tersebut.

Hal itu diungkapkan Koster dalam kampanye putaran kedua yang dilakukan di Gedung Dakwah, Kelurahan Seririt, Buleleng pada Selasa (22/10/2024) siang.

Di hadapan ribuan masyarakat pendukungnya, Koster menceritakan perihal gagalnya pembangunan bandara Bali Utara

Kegagalan itu selalu dikaitkan dengan PDIP, khususnya terkait pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang terang-terangan menolak rencana pembangunan bandara di Buleleng.

Koster mengklaim pembangunan Bandara bukan ditolak. Melainkan batal karena tidak ada titik temu terkait proses pemenuhan lahan.

Politisi asal Desa Sembiran itu mengklaim, persoalan pembangunan bandara itu sudah dibahas di tahun 2020 saat ia masih duduk sebagai Gubernur Bali. Bahkan sudah ada pembahasan juga dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, Kementerian BUMN, Kementerian PUPR, dan Kementerian ATR/BPN.

”Sudah dibahas panjang lebar. Ternyata tanah yang mau dibangun bandara, di Kubutambahan itu sudah dikerjasamakan dengan pihak ketiganya. Lama kontraknya 90 tahun,” ujar Koster.

Koster juga tersebut, hak guna bangunan atau sertifikat yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, ternyata dijadikan agunan oleh perusahaan. Total pinjaman senilai Rp 1,5 triliun.

Koster menyebutkan, bahkan pemerintah pusat tidak bisa menyelesaikan permasalahan itu. Sehingga atas dasar itulah, bandara batal dibangun di wilayah Desa Kubutambahan.

”Waktu itu tidak bisa dibangun di Desa Kubutambahan karena perkara. Jadi bukan ditolak, tapi karena kondisi tidak mungkin di sana,” lanjutnya.

Tak hanya itu saja, Koster juga mengatakan infrastruktur pendukung bandara Bali utara juga perlu ada sebelum bandara itu dibangun. Sebab keduanya saling berkaitan. 

Kalau hanya mengandalkan shortcut saja, Koster yakin bandara tidak akan terwujud. Karena idealnya waktu tempuh dari bandara menuju ibukota provinsi berkisar antara 30-90 menit.

Ia mencontohkan Bandara Kertajati di Provinsi Jawa Barat yang kini seperti bandara mati, sebab akses jalannya yang belum ada, membuat bandara itu gagal beroperasi maksimal. Koster mengatakan, negara pun akan rugi mengeluarkan uang, apabila hal serupa terulang di Bali.

”Jalannya dulu yang dibangun, supaya orang mau pakai bandaranya. Yen jalan sing ade, bandara dibangun, nyen kal nganggon? (Kalau tidak ada jalan, kemudian bandara dibangun, siapa mau pakai bandaranya?),” tanya Koster disambut riuh massa.

Apabila pasangan Koster-Giri terpilih, Koster berjanji akan kembali mengusahakan pembangunan bandara di Bali Utara. 

Apalagi pemerintah pusat pun sudah menginginkan adanya bandara tambahan di Bali. Sehingga pemerintah daerah tinggal mendukung saja. 

Namun, Koster tetap menegaskan pembangunan infrastruktur harus dilakukan terlebih dahulu. Sehingga bandara akan berfungsi dengan baik. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #kampanye #koster #wayan koster #bandara #buleleng