Radarbuleleng.id - Tahun 2024 menjadi tahun politik. Tahun ini sekaligus menjadi tahun yang penuh dengan perhelatan politik.
Mulai dari Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden yang berlangsung pada 14 Februari lalu. Hingga yang terbaru, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang berlangsung pada 27 November mendatang.
Padatnya agenda pemilihan juga memicu maraknya dinamika politik di masyarakat. Alhasil masyarakat pun mulai jenuh dengan isu-isu politik.
Hal itu diungkapkan Akademisi Universitas Udayana (Unud), Kadek Dwita Apriani. Wanita yang juga Dosen Ilmu Politik itu turut mencermati dinamika politik yang terjadi selama setahun belakangan.
Menurutnya perhelatan politik tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, Pilkada menjadi ajang pemanasan menjelang Pileg dan Pilpres sebagai puncak.
“Dulu sebelum pilpres, sekarang setelah pilpres. Nah sekarang kebalikan. Jadi ada fase decline antusiasme publik. Apalagi dibikin serentak," jelasnya.
Ia menyebut tensi politik saat ini cenderung kendor. Sebab masyarakat Bali mulai jenuh dengan politik, utamanya yang berkaitan dengan agenda Pilkada.
Dwita khawatir hal itu akan berpengaruh pada tingkat partisipasi publik. Padahal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali sudah memasang target partisipasi minimal 75 persen.
Salah satu hal yang menjadi indikator adalah antusiasme masyarakat membicarakan pilkada lewat media sosial. Terutama setelah debat publik.
"Yang antusias ya tim paslon saja, masyarakat tidak begitu (antusias)," kata Kadek Dwita. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya