SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Calon Bupati Buleleng nomor urut 1, Nyoman Sugawa Korry menyindir Calon Bupati Buleleng Buleleng Nomor urut 2, Nyoman Sutjidra.
Secara implisit Sugawa Korry menyebut jika Nyoman Sutjidra telah membiarkan diskriminasi dan ketidakadilan terjadi cukup lama di Buleleng.
Sindiran itu dilontarkan Sugawa Korry dalam debat publik Pilkada Buleleng di Hotel Banyualit Lovina, pada Rabu (20/11/2024) malam.
Dalam salah satu segmen, para pasangan calon mendapatkan sub tema “Mengimplementasikan Pemerintahan Daerah yang Inklusif” sebagai materi debat.
Panelis meminta agar para pasangan calon memaparkan terobosan kebijakan strategis terhadap masyarakat Buleleng yang tergolong rentan dan jauh dari akses pembangunan serta pelayanan publik.
Sugawa menyatakan, pemerintahan inklusif adalah pemerintahan yang memberi ruang seadil-adilnya bagi masyarakat. Pemerintah daerah juga harus menjauhi diskriminasi.
Dia berjanji akan membuat kotak pengaduan di seluruh instansi pemerintahan. Khususnya di kantor desa. Sehingga masyarakat bisa menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Pihaknya juga akan memberikan kesempatan pada seluruh masyarakat untuk diperlakukan secara adil tanpa diskriminasi.
Menanggapi ide yang disampaikan oleh Sugawa Korry, calon Bupati Buleleng nomor urut 2, Nyoman Sutjidra mengatakan pihaknya berkomitmen meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan di Buleleng.
“Kami juga akan melakukan program pembinaan dan pemberdayaan pada kelompok rentan, perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat yang berkebutuhan khusus, masyarakat yang juga mengalami kemiskinan ekstrem sehingga mereka bisa mengakses program yang diakses oleh pemerintah,” ujarnya.
Usai paparan itu, Sugawa Korry menyebut bahwa ketidakadilan dan diskriminasi telah terjadi di Buleleng cukup lama.
Salah satu contoh yang nyata adalah kakak beradik asal Bontihing - yang notabene kampung halaman Nyoman Sutjidra - melakukan ulah pati dengan melompat dari Jembatan Tukad Bangkung.
“Mereka putus asa tidak diperhatikan pemerintah. Sedangkan ada beberapa keluarga menerima bantuan hibah sampai miliaran. Ini ketidakadilan yang diterima dan dirasakan masyarakat,” sindir Sugawa Korry.
Sugawa Korry mengklaim pasangan Sugawa-Suardana bisa menangani kemiskinan di Buleleng. Dengan keyakinan dan semangat perubahan, Sugawa yakin menghilangkan diskriminasi dalam pelayanan publik. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya